Manusia Makhluk Budaya

MANUSIA MAHLUK BUDAYA 


 Telah Terjadi Kerusakan di Darat dan di Laut Karena Ulah Manusia 

Allah telah mengungkap masalah hasil perilaku manusia yang membawa dampak baik maupun buruk di muka bumi. Begitu banyak tanda keberhasilan manusia masa lalu yang telah “dipajang” dalan etalase Dunia yang memungkinkan menjadi bahan pembelajaran bagi manusia-manusia setelahnya. Allah swt selalu menantang manusia untuk melakukan perjalanan (bisa juga berwisata, lebih jauh wisata tadabbur alam) terutama mempelajari kejadian-kejadian yang terkait dengan peristiwa masa lalu yang telah digambarkan di dalam isi ayat-ayat Al-Quran. Ada 5 ayat Al-Quran yang berisi perintah siiruu (berjalanlah), dengan penekanan pada sisi pemeriksaan. Pemeriksaan dimaksud ada yang bertalian dengan pemeriksaan bagaiman akibat yang pernah diterima masyarakat masa lalu setelah mereka tidak mengikuti perintah Allah swt; ada juga yang berisi perintah memperhatikan bagaimana suatu proses penciptaan yang dilakukan oleh Allah swt dan kejadiannya hingga kini masih terus berlanjut.      

Kata perintah berjalanlah yang digunakan, ada kata   سِيرُوا dan  فَسِيرُوْا yang selalu diikuti kataفَٱنظُرُوا ْ atau  ثُمَّْٱنظُرُوْا. Sementara kata perintah lain yang digunakan untuk perintah yang berbeda antara lain فَْٱنطَلقََا ,فَْٱمۡشُوْا  , فَأسَِْۡ, dan  فَسِيحُوا. Penggunaan kata perintah pada kumpulan yang kedua memiliki perbedaan peruntukan. Kata سِيرُوا ْ dan  فَسِيرُوا (5 ayat) diperuntukkan sebagai perintah berjalan yang dilengkapi perintah meneliti:  فَٱنظُرُوا atau  ثُمَّْٱنظُرُوا. Kumpulan kata yang kedua: فَأسَِْۡ ditujukan untuk perintah Allah swt kepada 
Nabi Musa as untuk melakukan perjalanan di malam hari membawa kaumnya yang dilengkapi dengan peringatan bahwa perjalanan tersebut adalah perjalanan yang tidak aman karena akan dikejar oleh musuh (Q.S. Ad-Dukhaan, 44: 23). Kata  فَْٱمۡشُوا pada 
surat Al-Mulk, 67: 18 berisi perintah berjalan (mencari kehidupan) karena Allah swt mengaitkan perintah itu dengan cerita keberadaan Bumi yang dijadikan dengan segala kemudahannya bagi manusia. Kata lain, فَْٱنطَلقََا bercerita tentang perjalanan Nabi Musa as yang diuji kesabarannya oleh Allah swt melalui perilaku Nabi Chaidir (Q.S. AlKahfi, 18: 71 dan 74). Dan, kata  فَسِيحُوا berarti perintah berjalan dikaitkan dengan tenggang waktu tertentu yang bernada ancaman dari Allah swt untuk para musyrikin (Q.S. At-Taubah, 09: 02). 

Khusus tentang 5 ayat yang berisi perintah berjalan-jalan sambil melakukan penelitian, semuanya dikaitkan dengan wisata sejarah. Allah swt memerintahkan manusia untuk memeriksa apa yang pernah dicapai dan dialami oleh masyarakat masa lalu, lebih khusus berkaitan dengan bukti-bukti akibat pembangkangan. Azab Allah swt ditimpakan kepada masyarakat masa lalu yang tidak mau mengikuti aturan Allah swt, bahkan menantang kepastian Allah swt karena kesombongan mereka. Kesombongan berkaitan dengan kemampuan pencapaian dalam membangun budaya fisik berteknologi tinggi, seperti tampak dalam bangunan piramida, rumah-rumah batu, istana, bekas kapal, ataupun tinggalan-tinggalan fisik lain yang menjadi bahan pembelajaran pada masa yang jauh setelahnya. Sejumlah kejadian hebat sengaja disisakan bukti-bukti kejadiannya oleh Allah swt langsung utuh secara fisik ataupun hasil penggalian, seperti keberadaan mumi Firaun.  

Semua bukti berita kejadian-kejadian penting, bahkan tentang kemahakuasaan Allah swt lengkap menjadi bahan pembelajaran penting bagi masyarakat manusia. 
قَدْْۡخَلتَۡ مِنْقَبۡلكُِمْۡسُنََْٞفسَِيرُوا فِِْ ٱلۡۡرَۡضِْْفَْٱنظُرُوا كَيۡفَْكََنَ عَقَِٰبَةُْ
ٱلمُۡكَ ذِبيَِْْ١٣٧ ْ
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah di bumi dan perhatikan bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)  (Q.S. Ali Imran, 03: 137) 
-orang قُلْْۡ ِسkesudahanيرُوا ْ ِفِْٱلَۡۡرۡضِْْثُمَّْٱنظُرُو ْا ْكَيۡفَْكََنَْعَ قَِٰبَةُْٱلمُۡكَ ِذب ِيَْBerjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana ْ١١ ْKatakanlah: “
orang yang mendustakan itu” (Q.S. Al-An’aam, 06: 11)  
هَوَدَلقََىدْۡٱْبَعَللَُّّْثۡنَوَاْمِِ نۡفِهُْم ِكُمَّْأنۡمَُّْ ٖةْحَرَّقَّسُوتۡ الًعَْألَيۡ ِنَهْٱٱلعۡبُ ضَّدُلَوْلََٰا ْةُْٱ فللََّّْسَِْ ْوَٱيرُوجۡا ْتَن ِبُفِِوٱْا ْٱلۡۡلَرۡطََّٰغُضِْْوفَْٱْتَ نْفظُ ِمَرُنۡواهُ مْمَّنْۡكَيۡفَْكََنَ عَقَِِٰبَةُ ٱلمُۡكَ ذِْبيَِْْ٣٦ ْ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah 
Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (Q.S. An-Nahl, 16: 36) 
-orang قُakibatلْْۡ ِسيرُوا ْ ِفِْٱلۡۡرَۡ ِضْْفْٱَنظُرُوْا ْ كَيۡفَْكََنَْعَ ِقَٰبَةُْٱلمُۡجۡ ِر ِميَْBerjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana ْ٦٩ ْKatakanlah: "
قُلْْۡ ِسيرُوا ْ ِفِْٱلۡۡرَۡ ْضِْ ْف ٱَنظُرُوْا Naml, 27: 69)- َ orang yang berdosa (Q.S. Anْكَيۡفَْبدََأْٱلَۡۡلۡقَْ ْثُمَّْٱْللَُّّْينُ ِشئُْٱلنَّشۡأةََْْٱلۡأٓ ِخرَةَْ ْإِنَّْٱللََّّْ عََلََْٰ كُِ شََۡءْٖقَدِيرْٞ٢٠ ْ
Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan 
(manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S. Al-‘Ankabuut, 29: 20) 
Empat perintah pada ayat-ayat di atas terkait dengan perjalanan dan penelitian tentang manusia-manusia masa lalu dengan berbagai tinggalan yang merupakan bukti yang menyertai akibat atau kesudahan mereka. Pada ayat yang terakhir Allah swt memerintah manusia (khususnya ummat Muslim) untuk memeriksa hal-hal yang terkait dengan proses penciptaan manusia (sebagai pengalaman empiris ilmiah), bahkan tentang akhir penciptaan (sebagai berita). Berjalanlah, artinya, semua kegiatan itu tak mungkin hanya dikerjakan dengan diam, tanpa mobile. Semua data harus dikumpulkan dengan cara mencari dan mencari dari berbaggai sumber, sumber-sumber catatan lama, yang sedang terjadi, maupun lompatan-lompatan yang diperkirakan akan terjadi kemudian.     

Allah swt juga melengkapi berita tentang manusia dan hasil perilakunya dengan pernyataan yang sekaligus peringatan langsung bagi manusia pada masanya. Ayat yang kemudian sangat populer karena kerap digunakan sebagai bahan bahasan, tetapi belum menjadi pedoman yang mengarahkan manusia agar tidak berlaku seperti yang menjadi inti peringatan Allah swt. Manusia masih lebih banyak mengunggulkan hawa nafsunya, sehingga manusia terus-menerus melihat dan sekaligus mengalami bukti nyata apa yang menjadi isi peringatan Allah swt.  
ظَهَرَْ ٱلۡفَسَادُْْفِِ ٱل بَِْْۡوَْٱلَۡۡحۡعَرِْْمِبْلمَِوُاا كَسَبَتْۡأَيدِۡي ٱلناَّسِْْلُِِذِيقَهُمْبَعۡضَ ٱلََِّّيْ
ْلعََلَّهُمْۡيرَجِۡعُونَْ٤١ ْ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Q.S. Ar-Ruum, 30: 41)   

Cerita tentang jejak kehidupan manusia masa lalu (jejak budaya), juga masa kini, yang sengaja dipertontonkan oleh Allah swt, apalalgi dibantu dengan menggunakan aneka perlengkapan teknologi masa kini (hasil olah ilmu Allah swt), menggambarkan betapa Allah swt sangat mudah mencatat, mengulang, mengembalikan semua kejadian secara audio-visual dalam hitungan milisecond. Ketika sebuah rekaman video tentang pecahnya sebuah benda yang dikumpulkan geraknya dalam frame-frame film, itulah peristiwa di alam yang ada dalam kekuasaan Allah swt. Jika kita ingin melihat gambaran peristiwa bagaimana Allah swt mengembalikan kondisi sesuatu, baliklah putaran frame-frame film tentang benda pecah tersebut menjadi putaran film dengan laju-mundur. Seperti itulah gambaran kemudahan bagi Allah swt dalam mencatat peristiwa dan mengembalikan sesuatu.   

Manusia, hanya manusia saja, yang bisa meninggalkan catatan-catatan penting berupa tinggalan hasil perilakunya (terutama hasil budaya fisik) di permukaan Bumi. Sementara itu, mahluk lain, tidak pernah diceritakan meningalkan artefak. Manusia adalah mahluk budaya. Manusia diberi kemampuan untuk membangun suatu sistem sosial dalam berbagai tingkatan: keluarga, teman, kelompok pehobi, kelompok politik, bangsa, negara, bahkan kelompok yang lebih luas yaitu antarbangsa, antarnegara dan benua. Tinggalan hasil kegiatan ikatan sosial itupun tampak sekali bukti-buktinya. Subsistem budaya lainnya, lebih khusus hasil budaya fisik, menjadi tinggalan yang dominan sebagai petunjuk keberadaan bangsa manusia. Hasil budaya fisik ini, begitu banyak yang bermanfaat bagi manusia penggubahnya, bahkan juga untuk manusiamanusia lainnya. Di samping hal itu, artefak budaya fisik yang digunakan oleh Allah swt untuk menunjukkan cerita kesejarahan manusia-manusia masa lalu , Kaum Luth, 
Kaum ‘Aad, Kaum pendukung Firaun, dan banyak lagi, telah menjadi salah satu bukti sejarah yang bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran sekaligus peringatan! 

Tentang kerusakan yang diungkap di dalam surat Ar-Ruum, 30: 41, kini semakin mudah terdeteksi, terlihat, bahkan teralami langsung. Entah terjadi sejak dahulu atau hanya terjadi pada masa kini saja, ketika di belahan dunia lain ada berita banjir, tanah longsor, angin putting beliung, berita sejenis banyak bermunculan juga dari kejadiankejadian di tempat lainnya. Jika ada kecelakaan pesawat, di tempat lain pun muncul kejadian yang sama seakan mengikuti peristiwa sebelumnya. Terungkapnya berita kekerasan dalam rumah tangga, pembullyan, kejahatan seksual terhadap anak-anak, di tempat lain pun saling susul muncul kejadian yang serupa dengannya. Memang, semua itu bisa disaksikan bersama karena para pengelola media massa di tempat yang berbeda mengumpulkan hal yang tren sebagai bahan beirta. Tetapi, apakah kejadian-kejadian di Bumi ini selalu beruntun dan berseri? 

Masalah banjir, tanah longsor, dan jerebu kerap berulang dialami oleh masyarakat Indonesia. Apakah tak ada yang berusaha mengatasi tiga kejadian rutin dan besar itu sebelum berulang terjadi? Penanggulangan cenderung baru dilakukan setelah peristiwa menjadi lebih besar dan berskala nasional. Padahal, ada jalan lain yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan kesadaran dan kearifan lokal yang dahulu sering digunakan oleh para leluhur. Belum ada fakultas khusus yang disiapkan untuk menangani bencana banjir, tanah longsor, atau jerebu! 
Masih banyak kerusakan lainnya yang telah menurunkan kualitas Bumi. Manusia belum juga jera dengan perilaku merusak daratan, lautan, dan kini udara. Sampai kapan? Apakah mereka (kita!) merasa cukup hidup untuk masa kini dan tak perlu berpikir tentang masa hidup yang akan dilalui anak dan cucu?       

8.2 Bukti-bukti Ilmiah tentang Kemahakuasaan Allah swt  

Satu demi satu bukti ilmiah tentang ketetapan Allah swt terungkap. Banyak peneliti yang merasa pensaran dengan apa yang telah diungkap oleh Allah swt di dalam AlQuran. Mengapa Allah swt memerintahkan orang muslim melaksanakan shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam, mengapa orang muslim harus shaum, zakat, maupun ibadat hajji? Di balik semua perintah dan pola kegiatan yang harus dilakukan oleh manusia muslim, ternyata begitu banyak bukti ilmiah yang bisa diungkap. 

Penelitian tentang gerakan-gerakan shalat pernah dilakukan. Hasil dari penelitian itu menjadi simpulan data bahwa semua gerakan shalat memiliki fungsi penyehatan bahkan penyembuhan kondisi-kondisi sakit tertentu. Periksa buku yang ditulis oleh  Wratsongko, Madyo dan Sagiran tahun 2006 yaitu Mukjizat Gerakan Shalat, yang diterbitkan oleh  Qultum dan buku Mukjizat Gerakan Shalat & Rahasia 13 Unsur Manusia: Sehat Tanpa Obat Kimia untuk Generasi Unggul Berbudi Luhur yang diterbitkan oleh Noura Books tahun 2015. Begitu juga dalam buku Tahajud Manfaat Praktis Ditinjau Dari Ilmu Kedokteran yang merupakan laporan disertasi Moh. Sholeh, yang diterbitkan oleh Pustaka Pelajar dan Forum Studi Himanda, di Yogyakarta.  

Di satu sisi ada orang yang menyokong temuan-temuan tentang hasil penelitian tentang makna shalat, makna gerakan shalat, tapi banyak juga yang menentang. Kerap kita dengar komentar: “Seperti mengada-ada!” yang keluar dari mulut orang-orang yang fanatik tentang perintah sebuah kewajiban. Padahal, manusia lain yang menentang ajaran Islam malah memerlukan bukti empirik dari banyak hal tentang sisi ilmiah semua kondisi yang mereka tentang. Allah swt telah menyiapkan mukjizat yang sangat tepat dengan kondisi manusia masa kini untuk Nabi Muhammad saw, yaitu Al-Quran. Al-Quran sebagai salah satu mukjizat Nabi Muhammad saw, hingga kini masih terus berfungsi. Sebuah mukjizat yang tidak pernah diberikan oleh Allah swt kepada nabi yang lain. Rasa penasaran dan tuntutan pengalaman empirik dari para ilmuwan, terutama para penentang isi Al-Quran, telah banyak mendapatkan jawaban telak dari konsep ilmiah yang disediakan Allah swt dalam isi Al-Quran.  

Satu contoh , cerita tentang teori Big Bang, yang telah diceritakan oleh Allah swt sejak empat belas abad yang lalu. Menurut para ahli astrofisika, asal mula adanya alam semesta yang dikenal dalam teori big bang dinyatakan: pada mulanya alam semesta berbentuk satu massa yang besar (nebula primer) kemudian terjadi big bang (ledakan pemisah sekunder) yang mengakibatkan pembentukan galaksi yang terbagi dalam planet, matahari, bulan dan lain sebagainya. Teori yang dianggap memberikan penjelasan paling komprehensif dan akurat tentang penciptaan alam semesta karena didukung oleh metode ilmiah beserta observasi yang dilakukan oleh para astronom dan astrofisika selama beberapa dekade, sesungguhnya telah lebih dahulu dijelaskan oleh Pencipta alam yaitu Allah swt dalam surat Al-Anbiyaa, 21: 30. 
أوََْ لمَْۡيرََ ٱلََِّّينَْْكَفَرُوٓا أنََّ ٱلسَّمَوََٰتَِْٰ وَْٱلَۡۡرۡضََْ كََنَتَاْ رَتقۡٗاْفَفَتَقۡنَهَُٰمَا ْوجََعَلۡنَا مِنَْ
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya l ٱْلمَۡاءِْْٓكَُّ شََۡءٍْ حٍَ ْأفَلََْْيؤُۡمِنُونَْ٣٠ ْangit dan bumi itu 
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman  (Q.S. Al-Anbiya, 21: 30) 

Banyak temuan lainnya yang ternyata telah diceritakan di dalam Al-Quran, beberapa di antaranya: مَرَجَْ ٱلَۡۡحۡرَيۡنِْْيلَۡتَقِيَانِْ١٩ْْبيَۡنَهُمَاْبرَۡزَخْٞلًَّْيَبۡغيَِانِْ٢٠ ْ
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu 
Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing (Q.S. Ar-Rahmaan, 55: 19-20) 

۞وَهُوَ ٱلََِّّي مَرَجَ ٱلۡۡحَۡرَيۡنِْْهَذََٰاْعَذۡبْٞفرَُاتْٞوَهَذََٰا مِلۡحٌْأجَُاجْٞوجََعَلَْبيَۡنَهُمَاْ
برَۡزخَٗاْوحَِجۡرٗاْمََّّۡجُورٗاْ٥٣ ْ
Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan  yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi وَمَا يسَۡتَويِ ٱلَۡۡحۡرَانِْْهَذََٰاْعَذۡبْٞ فرَُاتٞ سَائِٓغْٞFurqan, 25: 53)-شَََابهُُْۥْوَ(Q.S. Alهَذََٰا مِلۡحٌْأجَُاجٞ ْوَمِن كُْٖتأَكُْۡلُونَْلََۡمٗاْطَرِ يٗاْوَتسَۡتَخۡرجُِونَْحِلۡيَةْٗ تلَۡبسَُونَهَاْ وَترََى ٱلۡفُلۡكَْ فيِهِْمَوَاخِرَْ لَِِبۡتَغُواْ مِنْ فضَۡلهِْۦِْ
وَلعََلَّكُمۡ تشَۡكُرُونَْ١٢ ْ
Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. 
Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-
kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur (Q.S. Faathir, 35: 12) 

Sejumlah pernyataan dan janji Allah swt yang diungkap secara jelas di dalam isi AlQuran, misalnya tentang bumi, air hujan, awan, kilat, malam dan siang, gunung, laut, dan banyak lagi, sangat mengundang rasa penasaran manusia ulul albaab, manusia peneliti. Beberapa ayat di antaranya sebagai berikut.   
ٱلََِّّيْجَعَلَْلكَُمُ ٱلۡۡرَۡضَْْفرَِشَٰٗاْوَْٱلسَّمَاءَْْٓبنَِاءْٗٓوَأنَزََلَ مِنَ ٱلَسَّمَاءِْٓ مَاءْٗٓفَأخَۡرَجَْبهِْۦِْ
مِنَ ٱلثَّمَرَتَِْْٰرزِۡقٗاْلَّكُمۡ ْفَلََْتََۡعَلوُا لِلَِّّْأندَادٗاْوَأنتُمْۡ تَعۡلَمُونَْ٢٢ ْ
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-
buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah,  padahal kamu mengetahui (Q.S. Al-Baqarah, 02: 22)وَمَثَلُْ ٱلََِّّينََْْينُفقُِونَْأمَۡوَلَٰهَُمُ ٱبتُۡغَِاءَْٓ مَ رۡضَاتِ ٱللَّّْْوَتثَۡبيِتٗا مِنْۡأنَفُسِهِمۡ كَمَثَلِْجَنَّة ِْۢبرَِبۡوَةٍْأصَابَهَاْوَابلِٞ فََْ اتتَۡ أكُلهََا ضِعۡفَيِْۡفإَِنِ لمَّْۡيصُِبۡهَاْوَابلِْٞفَطَ لٞ ّْٞۗوَْٱللَُّّْْ
بمَِاْتَعۡمَلوُنَْبصَِْيرٌْْ٢٦٥ ْ
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak 
menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu  perbuat (Q.S. Al-Baqarah, 02: 265)وَهُوَْ ٱلََِّّيْيرُۡسِلُ ٱل رَِيَحََْْٰبشَُۡاَْۢبيََْۡيدَََ يْۡ رحََۡۡتهِْ ۦِْْحَتََّّٰٓ إذَِا ْٓأقََلَّتْۡ سَحَابٗاْثقَِالًْٗ
سُقۡنَهَُْٰلِۡلَََٖ مَّ يتِْٖفأَنزَلۡناَ بهِ ٱلمَۡاءَْٓ فَأخۡرجَۡنَا بهِْۦِ مِنْ كُِ ٱلثَّمَرَ تَِْٰ كَذَلَٰكَِْنُُۡرجُِْ
ٱلمَِۡوۡتََْْٰلعََْلَّكُْمْْۡتذََْكَّرُونَْ٥٧ ْ
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan 
dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran  
(Q.S. Al-A’raaf, 07: 57) 

وَْٱذۡكُرُوٓا ْإذِۡ جَعَلكَُمْۡخُلفََاءَٓ مِنَْۢبَعۡدِْعََدْٖوَبَوَّأكَُمْۡفِِ ٱلۡۡرَۡضِْْتَتَّخِذُونَ مَِنْ
سُهُولهَِاْقصُُورٗاْوَتَنۡحِتُونَ ٱلِۡۡبَالَْ بُيُوتٗاْ فَْٱذۡكُرُوٓا ءَالًَءَٓ ٱللَِّّْْوَلًَْتَعۡثَوۡا ْفِِ ٱلۡۡرۡضِْْ
مُفۡسِدِينَْ٧٤ ْ
Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ´Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya 
yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmatnikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan  
وَيَصۡنَعُْْٱلۡفُلۡكَْْوَكَُُّمَاْمَرَّْعَلَيۡ هِْمَلََ ْٞ ِمنْقA’raaf, 07: 74)وَۡ- ِمهِْۦْQ.S. Alسَ( ِخرُوا ْ ِمنۡ هُْقاَلَْإِنْتسَۡخَرُوا ْ ِمنَّاْ
فإَنِْاَّ نسَۡخَرُ مِنكُمۡ كَمَا تسَۡخَرُونَْ٣٨ ْ
Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami) (Q.S. Hud, 11: 38) 

ذَلَٰوَسَكَِخَّلَأٓرَْيَْلتَْٰٖكَُ لمُقَِوۡٱمٖلَِّْۡيَلَْعْۡوَْقِٱلُلنوهََّنَاْرَْْ١٢ْوَْٱوَلمَاشَّمۡذَرَأسََْل وَْٱلۡكَُقَمۡمَرَْ فِِْ ٱوَْٱلۡۡلنَرۡجُُّوضِْمُْْ مُمُُۡتَسَل افِخَّاْرَألۡتَََُٰۢوَْْنَٰبهُُْ أِۥْٓمَْۡإرهِْ نَِّۦِْْٓ إفِِنَِّذَْلَٰفِِْكَِْ
لَأٓيةَْْٗ لقَِوۡمْٖيذََّكَّْرُونَْ١٣ ْ
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)
Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlainlainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran (Q.S. An-Nahl, 16: 12-13) 
تلَۡب وَسََُهُونَْوَْهَٱا ِلََّّوَتيرََْسَىَ ٱخَّلۡرَفُْٱلۡلَۡۡكَْحۡمَْرَْوَاِ لَِخَِأرَ فكُۡيِلهِوُا ْوَمِلِِنۡ بَۡهُتَْغُلََۡوا مٗامِْنطَرِف يٗاْضَۡوَلتهِْۦِسَۡتَوَلخۡعََ ِرلَّجُوا كُْمِمۡنۡتهُْشَۡ ِحكُلۡرُْيَوةْٗنَْ١٤ْ
وَألۡقََْْٰفِِْ ٱلۡۡرۡضِْ رَوَسََِِْٰأنْتْمَِيدَْبَكُِمْۡوَأَنهَۡرَٰٗاْوسَُبُلَْٗلَّعَلَّكَُمْۡتَهۡتَدُونَْ ١٥ْوعََلَمََٰ تَْْٰٖوَبْٱِلنجَّۡمِْْهُمْۡيَهۡتَدُونَْ١٦ْْأفَمَنْيََۡلُقُ كَمَنْلًَّْيََۡلقُُ ْأفلَََْتذََكَّرُونَْ١٧ ْ
Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari 
(keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur 
Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, 
(dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk 
Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk  
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (Q.S. An-Nahl, 16: 14-17) 

Salah satu janji Allah swt bagi manusia yang bisa merespons tanda kebesaran Allah 
وَأمََّا مَنْۡخَافَْمَقَامَْرَ بهِْۦِْوَنَهََ ٱۡلنفَّۡسَْْعَنِ ٱلهَۡوَىَْْٰ٤٠ْ ْswt dalam perilaku takut dan menahan diri dari hawa nafsu adalah surgaNya.
فإَنَِّْ ٱلَۡۡنَّةَْ هَِِ ٱلمَۡأوَىَْْٰ٤١ ْ
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya) (Q.S. An-Naazi’aat, 79: 40-41) 

Salah satu penanda manusia yang takut kepada Allah swt, ketika menyaksikan tandatanda kebesaran Allah swt, di antaranya digambarkn oleh Allah swt dalam surat AzZumar, 39: 23). 
ٱللَُّّْْنزََّلَْأحَۡسَنَ ٱلََۡدِيثِْ كتَِبَٰٗا مُّتشَََٰبهِٗا مَّثَانَِِْتَقۡشَعرُِّ مِنۡهُ جُلوُدُ ٱلََِّّينَْْيََۡشَوۡنَْ
رَبَّهُمْۡثُمَّْتلَيُِ جُلوُدُهُمۡ وَقُلوُبُهُمۡ إلَََِٰ ذكِۡرِ ٱللَّّْ ذَلَٰكَِ هُدَى ٱللَِّّْْيَهۡدِيْبهِْۦِ مَنْ
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat يشََاءُْٓ ْوَمَنْيضُۡللِِ ٱللَُّّْْفَمَا لَُِۥ مِنْْۡهَادٍْ٢٣ ْ-ayatnya) 
lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian 
menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun (Q.S. Az-Zumar, 39: 23) 

Ciri-ciri yang takut kepada Allah swt (sudah bisa dipastikan orang yang beriman) digambarkan oleh Allah swt dalam surat Al-Anfaal, 08: 02.  
إنَِّمَا ٱلمُۡؤۡمِنُونَْ ٱلََِّّينَْ إذَِا ذُكرَِ ٱللَُّّْ وجَِلتَۡ قُلوُبُهُمۡ وَإِذَاْتلُيِتَْۡعَلَيۡهِمۡ ءَايَتَُٰهُۥْ
زَْادَتۡهُمۡ إيِمَنَٰٗاْوَعََلََْٰرَ بهِِمْۡيَتَوَكَُّْوُنَْ٢ ْ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (Q.S. Al-Anfaal, 08: 02) 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebenaran