MANUSIA MAKHLUK SIASAH

Manusia Mahluk Siasah

Siasah yang kini diterjemahkan dengan pengertian politik memiliki arti yang sangat sempit. Siasah diatur juga dalam Dinul Islam. Sejumlah konsep dasar siasah ditentukan Allah di dalam Al-Quran. Contoh-contoh langsung dalam perilaku bersiasah ditampilkan pula oleh Rasulullah selama menjalankan posisinya sebagai Rasul, pemimpin negara, bapak, orang tua, warga masyarakat, dan khalifah Allah di Bumi.

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya
(Q.S. An-Nisaa, 04: 58-59)

Jika seseorang mempertanyakan gaya berpolitik yang sedang berkembang saat ini di antara para pemimpin bangsa, para anggota dewan, anggota senat, para pendukung partai, mahasiswa, dan masyarakat umum, kita bisa menyusur balik acuan gaya politik mereka. Tampaknya, sekalipun kebanyakan mereka mengaku sebagai orang Islam, mereka banyak yang tidak peduli dengan perilaku berpolitik yang Islami. Salah satu bukti yang bisa ditunjuk sebagai perilaku menyimpang dari nilai-nilai Islami adalah perilaku bicara dalam menghadapi lawan bicara, mengahadapi perbedaan pendapat, menetapkan putusan amar, mengangkat pemimpin, dan sejumlah perilaku lain yang kurang terpuji. Visi dan misi Islam telah banyak dikesampingkan oleh mereka. Mereka lebih mengagungkan visi dan teori politik bangsa Barat daripada yang bertalian dengan nilai-nilai syari’ah.

Dinul Islam tidak melarang ummat untuk berpolitik. Semua bidang kehidupan harus dirambah untuk mendapatkan kemaslahatan dan mengisi ruang-ruang tersebut dengan nilai-nilai yang Islami. Salah besar jika kemudian ummat membiarkan hal-hal yang berkembang saat ini tanpa pernah menyentuhnya dengan nilai-nilai Islami. Dunia media massa (koran, majalah, radio, televisi, internet, media sosial, bisnis online, e-learning, bahkan bisnis start-up dan game) harus ditembus ummat agar ide-ide Islam bisa memberi warna ke dalam bidang garap tersebut. Semua media massa telah lebih kental bermuatan politik praktis untuk kebutuhan sesaat dan sekelompok orang saja. Kebutuhan-kebutuhan sesaat telah menjadi incaran para pelaku politik. Ummat Islam tak bisa berpangku tangan membiarkan semua persoalan keduniawian itu dikuasai oleh manusia-manusia yang tidak berjuang untuk kemaslahatan masyarakat banyak. Diperlukan suatu penyeimbang media informasi untuk meluruskan informasi yang miring, yang cenderung menyudutkan ummat Islam.

Media massa, ternyata, telah menjadi kendaraan banyak keperluan siasah atau politik masyarakat. Oleh karena itu, ilmu konunikasi yang bergandengan tangan dengan teknologi media massa, seperti sistem penerbitan, penyiaran, penerangan, penawaran, diseminasi, bahkan entertaintment dengan berbagai trik dagang serta upaya saling mengalahkan saingan, kini, telah menjadi bahasa utama manusia-manusia pascamodern masa kini. Aturan ad-diin (agama) seakan tidak laku lagi dalam persitindakan (interaksi) sosial antarmasyarakat, antarbangsa. Media massa sebagai kendaraan utama, didukung oleh teknologi komunikasi berbasis komputer, smartphone mobile, dan jalur internet, telah menjadi transportasi yang amat mumpuni untuk mengolah berbagai kebaikan maupun keburukan manusia!

Dakwah dan teladan tidak bisa sekadar mengandalkan kharisma kebesaran tokoh semata. Para pengelola teknologi informasi yang kuat-modal telah menjadi panglima-panglima yang mengarahkan hampir semua perilaku dan hasrat manusia masa kini. Oleh karena itu, manusia muslim harus menguasai teknologi informasi. Dagang informasi adalah persaingan kekuasaan ruang maya dan kekuatan daya tarik kemasan informasi. Bersiasah dalam memanfaatkan kondisi informasi pada pasar bebas masa kini, memerlukan taa cara dan sistem perilaku baru yang diikat oleh pakem sistemsistem teknologi pelopor. Syeitan sebagai satu sistem paling kuno, telah semakin luas jangkauan dan terobosan penguasaan-godaannya, hingga ketika manusia dalam kondisi sadar sekalipun. Siasah baru yang sejalan dengan upaya meredam tantangan zaman harus terus dikembangkan sebagai jalur dakwah, tawaashau bil-haq wa tawaashau bish-shabr, sebagai tugas utama khalifatan fil ardh.     


5.7 Hubungan Horizontal Manusia-Alam

Begitu banyak ayat Al-Quran yang mengingatkan manusia agar memperhatikan alam. Alam sebagai tanda kebesaran Allah adalah tempat manusia berkembang biak. Oleh karena itu, manusia harus bersikap bijaksana terhadap alam yang merupakan bagian dari dirinya. Terkait dengan fungsi kekhalifahan, manusia seharusnya menjadi pengolah alam yang bijaksana. Bila fungsi khalifah tak berjalan, aneka kehancuran lingkungan akan terus-menerus terjadi. Manusia sendiri yang akhirnya menghadapi kesulitan sebagai akibat lingkungan yang rusak. Perusakan alam berarti perusakan bagian diri manusia sendiri. Untuk menumbuhkembangkan sebuah pohon besar memerlukan waktu berpuluh bahkan beratus tahun. Tetapi pada masa kini, untuk merubuhkannya bisa dilakukan hanya dalam waktu lima belas hingga tiga puluh menit saja. Hal itu dilakukan hanya oleh seorang manusia. Bisa dibayangkan ketika begitu banyak manusia melakukan hal yang sama. Kerusakan lingkungan selalu baru disadari setelah akibat-akibatnya dirasakan sangat menancam. Ketika kerusakan itu masih dalam skala kecil, pada dasarnya upaya mengatasinya bisa melibatkan masyarakat umum. Jika telah menjadi bencana nasional, seperti yang terjadi secara terus-menerus dalam bentuk kabut asap, banjir, dan tanah longsor, manusia telah kehilangan kemampuan dan kekuasaannya yang pernah diberikan oleh Allah swt.

Setelah peristiwa Perang Salib yang menghancurkan peradaban masyarakat Islam, ummat Islam telah mengalami berbagai degradasi kemampuan melihat alam sebagai bagian kajian penting bagi dirinya. Belum begitu banyak hasil penemuan baru tentang hasil kajian keilmuan yang dimotori ummat Islam masa kini. Ummat lain lebih giat melakukan penjelajahan hampir ke semua pelosok Bumi. Mereka menggunakan pendekatan dasar Islami, sekalipun mereka tidak menyadari atau bahkan tidak mau mengakuinya. Oleh karena itu, tidaklah salah pernyataan seperti ini: “Ummat Islam akan semakin mundur jika meninggalkan syari’at agamanya; sebaliknya ummat lain akan lebih maju jika meninggalkan ajaran-ajaran agamanya”.

Ilmu kedokteran, ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu kimia, matematika, teknologi, dan berbagai kajian keilmuan lain adalah hasil usaha manusia menyikapi alam. Seharusnya, mereka yang amat dekat dengan alam, mengkaji alam secara mendalam, akan semakin dekat kepada kesadaran tentang keberadaan Yang Maha Pencipta. Allah telah mengungkap kemahakuasaanNya melalui perumpamaan maupun bahan kajian yang nyata (Q.S. Al-Baqarah, 02: 26; 164; An-Nahl, 16: 68-69; 79; Al-Ankabuut, 29: 41 dan ayat-ayat lainnya). Allah swt menantang manusia juga bangsa jin, sejak awal penciptaan mereka. Tantangan tersebut (Q.S. Ar-Rahmaan, 55: 33) tentang kemampuan melintasi ruang angkasa dan penjuru Bumi dan Langit. Allah telah menetapkan bahwa tanpa ilmu, kemampuan itu tidaklah ungkin akan bisa tercapai.

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik (Q.S. Al-Baqarah, 02: 26)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan (Q.S. Al-Baqarah, 02: 164)

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia"
Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan (Q.S. An-Nahl, 16: 68-69)

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas, tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.
(Q.S. An-Nahl, 16: 79)

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui (Q.S. Al-Ankabuut, 29: 41)


Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. (Q.S. Ar-Rahmaan, 55: 33)

Nabi Adam as sejak awal telah “dimenangkan” atas para malaikat dan iblis tentang penguasaan nama-nama semua benda alam. Pengetahaun tentang kosa kata, ternyata menjadi penting dalam pembelajaran awal berbahasa. Bahkan menjadi tonggak utama dalam pengembangan pengetahuan lanjutannya. Allah telah menganugerahkan pengetahuan aneka nama alam kepada manusia pertama ciptaanNya. Kepada Nabi Muhammad, Allah pun sejak awal wahyu pertama, telah memaksa Muhammad untuk iqra, membaca, mempelajari, apa yang menjadi bagian dari dirinya, lingkungannya. Yang paling awal harus menjadi objek iqra adalah apa yang terdekat dengan diri manusia. Manusia diharuskan mampu membaca keberadaan dirinya dengan menggunakan pendekatan Ilahiyah. Mengapa manusia diciptakan; untuk tujuan apakah manusia dijadikan khalifah di muka Bumi; mengapa manusia diberi kesempurnaan bentuk daripada mahluk lain; dan bagaimana posisi manusia di antara alam ciptaan Allah? Itulah hal-hal penting yang mendasar, yang seharusnya menjadi perhatian mendasar pula bagi ummat Islam.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Q.S. Al-Baqarah, 02: 31)

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (Q.S. Al-Baqarah, 02: 33)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebenaran