Manusia Makhluk Moral
MANUSIA MAHLUK MORAL
Nabi Muhammad saw Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak Manusia
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyemurnakan akhlak manusia”. (Hadits)
Isi hadits yang “populer” tersebut telah begitu dihafal oleh hampir semua masyarakat muslim. Sebuah pernyataan yang berisi kepastian dari Nabi Muhammad saw tentang tujuan Allah mengutusnya. Nabi Muhammad diutus bukan untuk menyempurnakan agama, tetapi untuk menyempurnakan akhlak. Hal itu menunjukkan bahwa yang akan menjadi kunci lengkapnya keimanan dan keislaman seseorang adalah akhlaknya. Allah tidak akan memberi tugas menyempurnakan akhlak kepada seseorang, seandainya yang ditugasi itu tidak memiliki akhlak yang baik. Akhlak yang baik, seleblum Muhammad menjadi Nabi, telah diperlihatkan dalam aneka hubungan sosial yang bisa dinilai oleh orang banyak di sekeliling Muhammad. Julukan al-amiin adalah julukan yang berisi kepercayaan yang amat berharga dari masyarakat di sekeliling Muhammad pada saat itu. Artinya, apa yang menjadi milik Muhammad sebelum menjadi Nabiyullah, adalah modal dasar yang amat penting, mengapa Allah memilih Muhammad al-ummiy menjadi nabi sekaligus rasul.
Al-amiin adalah prestasi. Pada saat masyarakat jahiliyyah lebih mementingkan urusan duniawi, mementingkan urusan kesenangan semata, hedonism, mereka masih memiliki pikiran yang jernih hingga bisa melihat kelebihan Muhammad. Seandainya gelar alamiin diberikan oleh masyarakat yang serba baik, serba terbimbing oleh nilai-nilai Ilahiah, gelaran itu menjadi hal yang “biasa”. Sekumpulan orang baik, tentu, bisa melihat sesuatu yang baik secara nyata yang ada di sekelilingnya. Tetapi, kalau sekumpulan orang yang sangat dibelenggu aneka kejahatan, kejelekan, kemusyrikan, dan kebohongan, sehingga digelari jahiliyyah, bisa melihat kenyataan yang baik yang dimiliki Muhammad, kita bisa mengartikan bahwa kebaikan yang dimiliki Muhammad adalah “kebaikan yang amat baik”. Kebaikan yang bisa menembus benteng kebodohan yang sangat tebal.
Kita harus yakin, bahkan sangat yakin, Muhammad yang akan menyempurnakan akhlaq manusia telah dikondisikan sebagai SDM yang memiliki akhlaq mulia oleh
Allah. Oleh karena itu, kita sering mendengar istilah ”satunya kata dan perbuatan”. Apa yang dikatakan, itulah juga yang dilakukan.
Dari uraian tadi, bisa dirumuskan satu gambaran pengertian tentang akhlaq: Akhlaq adalah keseimbangan antara perilaku lahir dengan perilaku batin. Karena akhlaq ini, kemudian, bisa dikaitkan dengan dua nilai yang saling berbeda: baik dan buruk, maka bisa dikatakan, akhlaq itu ada yang baik dan ada juga yang buruk. Akhlaq yang baik adalah perilaku lahir sekligus perilaku batin yang dibimbing oleh kebenaran yang mutlak, kebenaran yang datang dari Khalik. Akhlak yang buruk adalah perilaku lahir sekaligus perilaku batin yang dibimbing oleh kebenaran yang datang dari makhluk.
Apakah akhlak sama dengan sopan santun, atau budi pekerti? Dalam akhlak terkandung tampilan berupa sopan santun yang didasari budi pekerti. Tetapi sopan dan santun yang hanya tampilan lahir saja, belum bisa dikategorikan sebagai akhlak. Orang-orang munafik boleh jadi bisa bersopan santun di depan orang lain. Namun, tampilan sopan santun tersebut, bagi para munfik, tidak pernah sejalan dengan apa yang ada di dalam hatinya. Dalam Al-Quran digambarkan bagaimana orang munafik itu berperilaku: ketika mereka bertemu dengan orang muslim, mereka menyatakan “aku beriman kepada Tuhanmu”; tetapi ketika mereka bertemu dengan kaum kuffar, mereka pun berujar “aku sejalan dengan keadaanMu”. Allah telah menjanjikan tempat yana amat buruk bagi para munafiq yaitu “di bagian neraka yang paling bawah”. Dan, selama nilai yang digunakan sebagai tolok ukur sopan, santun, berbudi, berpekerti, itu adalah ukuran makhluq, sifat semua nilai tadi temporer, dibatasi ruang. Apa yang dinyatakan sopan dalam lingkungan masyarakat masyarakat Barat belum tentu sama dengan yang ada di lingkungan masyarakat Timur. Begitu pun sebaliknya.
Akhlak yang baik harus bersumber dari hanya satu sumber nilai yang Mahabenar. Jika tata-nilai yang dijadikan pengukur akhlak masih berupa tata-nilai ganda, kebenaran nilai tadi masih akan selalu dipertanyakan. Oleh karena itu, seandainya semua manusia menggunakan konsep tata-nilai Ilahiah yang satu, tidak akan ada pertentangan. Allah telah menyediakan tata-nilai kebenaran tentang rasa, pikiran, sikap, tindak, perbuatan, dan segala yang melatari tingkah laku kita sebagai manusia dalam tata-nilai Islam. Tata-nilai Islam yang nyata adalah apa yang diperagakan oleh Nabiyullah Muhammad saw.
Karena manusia masa kini tidak pernah bertemu langsung dengan sumber teladan akhlak, maka telah disediakan bagi kita Al-Quran dan al-hadits sebagai sumber tatanilai yang Islami.
Bagaimana cara bertanggung jawab terhadap diri senidiri, terhadap orang tua, terhadap orang lain, terhadap lingkungan, dan terutama terhadap Rasul dan Tuhan, telah lengkap diatur dalam Al-Quran dan al-hadits. Al-Quran dan al-hadits itulah yang kemudian akan kita jadikan sebagai sumber rujukan bagaimana kita berakhlak mulia. Seperti telah disinggung, akhlak menjadi kata kunci keberhasilan seseorang menjadi manusia paripurna setelah memiliki iman dan islam. Oleh karena itu, inti pembelajaran penting dalam konsep Islam adalah menata akhlak agar iman dan islam yang telah ada bisa sejalan dengan yang telah dituntut dan ditetapkan oleh Allah swt melalui teladan perilaku nabiNya.
9.2 Nabi Muhammad saw sebagai Uswah Hasanah
Julukan Al-Amiin yang diterima Nabi Muhammad saw dari para kuffar Quraisy adalah julukan tertinggi, terhormat di antara mereka. Al-Amiina adalah prestasi dari kebaikan akhlak yang dimiliki oleh Muhammad sejak sebelum menjadi nabi. Allah swt telah menegaskan di dalam Al-Quran tentang keteladanan Nabi Muhammad saw.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah swt (Q.S. Al-Ahzaab, 33: 21)
Para ahli tafsir mengaitkan ayat tersebut dengan peristiwa Pearang Khandaq. Diceritakan bahwa Nabi Muhammad saw menunjukkan teladan kesabaran dan semangat yang tinggi tanpa keluhan, sekalipun dalam kondisi sulit akibat perang. Sementara itu para shahabat banyak yang berkeluh-kesah kepada Nabi (Tafsir Al-
Qurthubi: 14/138-139). Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’adi dalam kitab tafsirnya yang terkenal, Tafsir Kariimir Rahmaan, menyebutkan: “Para ulama ushul berdalil dengan ayat ini tentang berhujjah (berargumen) menggunakan perbuatan-perbuatan Nabi. (Karena) pada asalnya, ummat beliau wajib menjadikan beliau sebagai suri teladan dalam perkara hukum, kecuali ada dalil syar’i yang mengkhususkan (bahwa suatu perbuatan Nabi hanya khusus untuk beliau saja secara hukum, tidak untuk ummatnya”. Pernyataan tadi sejalan dengan firman Allah swt dalam surat An-Nisaa, 04: 13).
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-
sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar (Q.S. An-Nisaa, 04: 13)
Memang ada sejumlah perbuatan Nabi saw yang dikhususkan untuk Nabi semata. Tetapi, begitu banyak perbuatan Nabi yang harus menjadi teladan untuk ummat sebagaimana yang dijelaskan dalam isi ayat surat Al-Ahzaab, 33: 21. Bahkan, seperti pernah dibahas, perbuatan Nabi adalah salah satu yang menjadi bagian dari sunnatnya, sunnaturrasul. Jika ummat tidak mengikuti sunnat Rasul berarti bukan bagian dari ummat Rasul. Sementara itu, pernikahan Nabi yang terkait dengan jumlah istrinya, yang kerap dipakai alasan untuk meniru jumlah istri dalam poligami, hanya berlaku untuk Nabi Muhammad saw. Tentang jumlah istri Nabi, hal ini sering dijadikan hujjah dan sekaligus kritikan dari ummat lain. Sesungguhnya Nabi menikahi istri-istrinya dengan kondisi khusus.
Nabi menikah dengan Siti Khadijah sebagai istri pertama adalah istri nabi yang utuh.
Nabi tidak menikah dengan yang lain ketika sedang memperistri Khadijah. Baru setelah Siti Khadijah meninggal, ada peristiwa-peristiwa yang sangat berhubungan dengan petunjuk Allah dan peristiwa itu dilengkapi dengan hikmat di belakang kejadiannya. Intinya, Rasulullah atas petunjuk Allah swt menikahi sejumlah janda korban perang yang (terutama) harus diselamatkan keimanannya dan memiliki kelebihan yang menyokong perjuangan pengembangan Islam. Ada yang berlatar sebagai janda ummul masakin, ahli pidato, hafiz Quran, dari keluarga terhormat suku tertentu yang menjadi tali dakwah bagi sukunya, juga terkait dengan proses pembelajaran tentang kewanitaan, pembebasan budak, penghapusan sistem kebiasaan jahiliyah tentang keluarga, dan banyak hikmat lainnya. Semua kondisi itu tidak lepas dari petunjuk yang diberikan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad. Sunnat Nabi, tentu termasuk dalam pola perilaku Nabi dalam mempertimbangkan alasan menikahi istri-istrinya, tetapi tidak jumlahnya.
Jumlah istri yang diperbolehkan secara syar’i adalah empat saja. Lihat isi surat AnNisaa, 04: 03.
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim
(bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada
tidak berbuat aniaya
(Q.S. An-Nisaa, 04: 03)
Sunnaturrasuul, sunnat rasul, sunnat nabi, adalah salah satu yang disebut sebagai warisan dari Nabi, selain Al-Quran (sebagai sunnatullah). Sunnat Nabi (dikategorikan sebagai hadits, berita, dari Nabi, tentang Nabi, dan sikap Nabi) bisa ucapannya (qauliyah), perbuatannya (amaliyah) dan sikapnya (takriiriyah). Jika yang mengaku ummat Nabi tidak mau mengikuti sunnat Nabi, Nabi mengingatkan dalam salah satu haditsnya.
“Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Lalu) dikatakan kepada beliau: ‘Siapa yang enggan itu wahai Rasulullah?’ Maka beliau menjawab: ‘Barangsiapa menaati aku ia pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka ia enggan (masuk surga)’.” (Shahih Bukhari: 7280)
Sebagai bekal keteladanan, Rasulullah telah dianugerahi kelengkapan sifat, yaitu 4 sifat yang dimiliki oleh Rasulullah yang selanjutnya menjadi tanda kelebihan yang dimiliki oleh Rasulullah. Keempat sifat Nabi itu betul-betul melekat dalam ucapan, sikap, maupun perilaku Nabi sehari-hari. Empat sifat itu adalah: Shiddiq (benar), amanat (bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan, tidak menyembunyikan), dan fathonah (cerdas).
Oleh karena itu, apa yang diucapkan (qauliyah) dengan apa yang dilakukan (fi’liyah) oleh Nabi selalu sejalan, yang kemudian secara syari’at menjadi pedoman uswah hasanah yang harus diikuti oleh ummatnya.
9.3 Konsep Manusia Terbaik di Sisi Allah
Allah swt telah menetapkan aturan-aturan yang membentengi kebebasan manusia. Aturan tersebut adalah sebagai jalan kebaikan yang disediakan oleh Allah swt agar manusia menyadari keterbatasannya. Banyak aktivitas manusia terkait dengan aturanaturan tersebut. Bahkan di dalam perjalanan kehidupan seseorang muslim atau muslimat, sepanjang itulah aturan mengikat kegiatan mereka. Sejak manusia bangun dari tidur, mengawali hari, bekarja, bermu’amalah, istirahat, ibadat mahdhah, hingga manusia mau tidur lagi, semua rangkaian kegiatan itu diikat aturan-aturan. Tidak akan ditemukan dalam aturan agama lain, bahwa semua kegiatan manusia muslim ada aturan resminya, lengkap dengan niatnya. Oleh karen itu, seperti telah dibahas di muka, manusia muslim itu bisa mengumpulkan aneka catatan pahala dalam setiap tindaktanduknya. tak ada yang luput dari perhitungan amal kebaikan jika semua aktivitas manusia dilengkapi dengan pemenuhan atas tata aturan yang telah ditetapkan secara rinci oleh Allah swt.
Ada satu hadits yang populer, yang terkait dengan gambaran seorang yang terbaik tempatnya di sisi Allah swt. Isi hadits ini berhubungan dengan masalah perilaku amaliyah seseorang. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang banyak manfaatnya bagi manusia lain”. Sebagai mahluk individu manusia bertanggung jawab penuh atas segala hasil perbuatan dirinya. Tetapi, sebagai makhluk sosial, manusia dituntut menjadi individu yang bisa banyak memberi manfaat bagi individu lainnya.
Kebermanfaatan tadi tidak berhubungan dengan profesi tertentu. Artinya, semua bidang kegiatan yang sejalan dengan aturan-aturan Allah swt, adalah lahan untuk menggali dan mengumpulkan kebaikan yang bermanfaat bagi dirinya maupun bagi manusia lain. Tiga hal yang terkait dengan tinggalan yang masih akan memberi kucuran laba pahala kepada seseorang yang telah meninggal, ketika semua amalnya diputus Allah swt, adalah hasil perilaku yang juga menyebabkan kebermanfaatan bagi orang lain. “Anak yang shalih yang mendoakan kedua orang tuanya”, adalah hasil usaha orang tua semasa masih hidup dalam mengarahkan dan membimbing anakanaknya menjadi anak-anak shalaih dan shalihat.
Kebermanfaatan kedua adalah berhubungan dengan pemanfaatan ilmu. Ilmu yang dimanfaatkan, ilmu yang diajarkan kepada orang lain, sangat bermanfaat bagi orang yang mendapatkannya. Segala upaya penyebaran ilmu, penyampaian ilmu, baik dalam bentuk proses pendidikan, pembelajaran, maupun pelatihan, menjadi indikator kondisi kebermanfaatan seseorang di antara keberadaan orang lain. Oleh karena itu, “ilmu yang bermanfaat” adalah hal kedua yang masih akan mengalir hasilnya kepada orang yang telah meninggal.
Satu hal yang paling rasional sebagai bentuk kebermanfaatan seseorang di dalam persitindakan dengan orang lain adalah berupa amal jariyah, amal yang terus berkelanjutan maknanya, hasilnya, manfaatnya. Amal jariyah bentuknya sangat bergam. Siapapun yang memiliki harta, seberapa banyak harta yang dijariahkan, semua berawal dari keikhlasan mengeluarkannya sebagai amal jariyah, maka akan menjadi amal yang tidak terputus hasilnya sekalipun orang yang beramal tersebt telah meninggal. Amal jariyah yang akan tetap mengalir hasilnya kepada orang yang telah meninggal, sebagai bentuk kebermanfaatan dirinya bagi orang lain, adalah harta yang dijalankan sebagai amal shadaqah (terutama), infaq, waqaf, dan hibah, selagi orang tersebut masih hidup. Pemanfaatan harta seseorang yang telah meninggal, atas kesadaran dirinya ketika masih hidup, misalnya dalam bentuk wasiat, masih lebih nyata dibanding harta yang dibagikan (untuk kebermanfaatan bagi orang lain) oleh keluarganya setelah pemilik harta meninggal. Kesadaran individu itulah yang menjadi tolok ukur amal shalih seseorang.
Satu kondisi ideal yang menjadi tuntutan yang diberikan oleh Allah swt kepada setiap manusia agar bisa mencapai tempat terbaik di sisi Allah swt, adalah kondisi takwa. Banyak ayat Al-Quran yang isinya mengingatkan manusia muslim maupun mukmin agar bisa mendapatkan puncak posisi dalam lindungan Allah swt adalah sebagai manusia muttaqin.
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas
(Q.S. Al-Baqarah, 02: 212)
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
(Q.S. Al-Hujuraat, 49: 13)
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat
(Q.S. Al-A’raaf, 07: 26)
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal
(Q.S. Al-Baqarah, 02: 197)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka
berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan
kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang
tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir" (Q.S. Al-Baqarah, 02: 286)
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (Q.S. At-Taghabun, 64: 16)
9.4 Indikator Kenabian sebagai Uswah Hasanah
Sebagai utusan yang ditugasi untuk menyempurnakan akhlak manusia, Nabi Muhammad saw memiliki ciri kenabian sebagai manusia yang patut menjadi contoh. Sejak sebelum masa kenabian, Muhammad telah menunjukkan ciri-ciri kebaikan akhlak tersebut. Beliau telah mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat Quraisy sebagai orang yang dapat dipercaya perilakunya. Beliau dijuluki Al-Amiin, orang yang sangat bisa dipercaya. Di samping memilik perilaku terercaya, Muhammad pun memiliki latar keturunan dari keluarga yang terhormat, yang terpelihara kehormatan nama keluarga dan keturunannya. Latar keluarga bangsawan Quraisy yang kaya telah menjadi bekal awal kondisi Muhammad sebagai orang yang dihargai oleh lingkungannya. Ditambah dengan perilaku terpuji yang menjadi ciri kehidupan sehariharinya, Muhammad telah menjadi tokoh anggota masyarakat yang dihargai. Untuk melengkapi kesiapan mental dan terutama moral Muhammad, Allah swt memerintahkan Jibril untuk melakukan pembedahan, pembersihan hati Muhammad, seperti yang diceritakan dalam sejumlah kisah nubuwwah. Jadi, lengkaplah Muhammad sebagai calon Nabi akhir zaman, yang keberadaannya dicatat dalam AlQuran sebagai uswah hasanah bagi manusia pada masanya dan manusia-manusia pada zaman jauh setelahnya.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Q.S. Ali Imran, 03: 159)
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayatayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah.
Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata
(Q. S. Ali Imran, 03: 164)
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung
(Q.S. Al-Qalam, 64: 04)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku´ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia
dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka
ampunan dan pahala yang besar (Q.S. Al-Fath, 48: 29)
Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju
kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang
mempersekutukan-Nya (Q.S. Fushshilat, 41: 06)
Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu,
padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: "Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat" (Q.S. Ar-Ra’d, 13: 30)
9.5 Pendidikan Karakter dalm Konsep Islam
Pendidikan karakter dimulai dari rumah. Orang tua yang pertama menorehkan penanda awal ke dalam hati seorang anak. Melalui pembiasaan yang dibangun orang tualah karakter tertentu akan terbentuk dalam diri seseorang. Anak-anak yang dilahirkan dalam kondisi fitrah akan menyerap opengaruh lingkungannya sebagai bentuk simpanan data dalam memorinya. Data itu akan menjadi sumber rujukan perilakunya kelak. Pntaslah, isi hadits Nabi yang menyatakan bahwa “setiap yang dilahirkan berada pada kondisi fitrah” adalah konsep dasar pendidikan dini, yang akan berlanjut dalam bentuk pembiasaan-pembiasaan yang memberi warna perilaku, tindakan, tanggapan, cita-cita, citra, maupun anggapan-angapan yang akan dimiliki oleh seorang anak.
“Orang tualah yang pertama mengarahkan anak menjadi Yahudi, Nashara, ataupun
Majusi”.
Dalam konsep Islam, pendidikan dini adalah kunci pembuka hidayah bagi seseorang. Ketika pembiasaan telah terbentuk melalui pengaruh orang-orang yang paling dekat dengan seorang anak, maka pengaruh tersebut bisa menjadi jembatan hidayah, jika pengaruh yang diberikan adalah pengaruh yang baik. Sebaliknya, jika pengaruh yang diterima oleh anak adalah pengaruh buruk, sehingga membentuk karakter buruk, maka pendidikan masa kecil telah menjadi pagar atau sekat yang memisahkan anak dengan hidayah.
Memang, hidayah Allah adalah hak prerogatif Allah saja. Tak ada seorang manusia pun yang diberi kesempatan untuk bisa mengarahkan dirinya, apalagi orang lain, ke arah hidayah Allah swt (Periksa bahasan Nikmat Hidayah). Nabi Muhammad sebagai kekasih Allah swt, tidak sedikitpun diberi kesempatan untuk bisa mengarahkan pamannya, Abu Thalib, kepada Islam. Dalam kondisi menjelang ajal menjemput, paman Nabi masih saja merasa malu untuk menyatakan berserah diri menjadi muslim. Hal inilah yang kemudian menyebabkan Nabi sangat bersedih. Paman yang dicintainya, penunjang perjuangan tegaknya Islam, ternyata tidak siap untuk meyatakan diri menjadi muslim pada saat menjelang akhir hayatnya. Kesedihan itu menjadi salah satu rencana Allah swt untuk menunjukkan hak prerogatif Allah swt tentang hidayah. Allah swt mengingatkan Nai Muhammad saw atas peristiwa yang menyedihkan tersebut sebagai bentuk nyata keterbatasan kemampuan manusia, sekalipun sebagi seorang Nabiyullah. Dan, yang paling utama, Allah swt menunjukkan bahwa hanya Allahlah yang berkuasa atas segala sesuatu!
“Innaka laa tahdii man ahbabta wa laakinna-Allaha yahdii man yasyaa” (Sesungguhnya engkau tidak bisa memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai sekalipun, tetapi sebaliknya Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapapun yang
Dia kehendaki”. Pernyataan tersebut adalah bukti kekuasaan Allah swt atas hidayah. Jika Allah swt menghendaki, siapapun akan mendapatkah hidayah Allah swt, tetapi jika Allah swt tidak menghendaki, siapapun tak memiliki kekuasaan ututk menunjukkan kebaikan, sekalipun kepada orang-orang yang sangat dicintai. Namun, di dalam semua kondisi tadi, Allah swt tetap menunjukkan bahwa ada sesuatu yang menjadi penyebab mengapa Allah swt tidak mengabulkan permohonan Nabiyullah Muhammad saw. Allah swt menunjukkan bahwa pembelajaran yang nyata bahwa di dalam hati paman Nabi ada kesombongan dan ketidakikhlasan yang kuat. Dia malu kepada kaumnya jika menyatakan diri sebagai muslim!
Karakter ikhlas dan pasrah adalah kondisi yang dituntut dalam menghadapi ketentuan Allah swt. Tak ada yang lebih nikmat selain ketika seseorang bisa memasrahkan diri secara sadar kepada ketentuan Allah swt, setelah melalui berbagai upaya: amal maupun do’a. Hanya dengan berbekal keyakinan bahwa ketentuan Allahlah yang terbaik sebagai pilihan akhir. Seseorang akan merasa lengkap menempatkan diri sebagai makhluk, yang tidak memiliki kuasa apapun selain yang telah dianugerahkan oleh Allah swt. Inilah keimanan dakan qadha dan qadar Allah swt, yang baik maupun yang buruk. Tetapi, semua muslim harus yakin bahwa yang diberikan oleh Allah swt pasti yang terbaik, sekalipun pada kenyataannya, masih banyak orang yang belum bisa menyadari ada hikmah di balik semua yang ditetapkan oleh Allah swt.
Sebagai mahluk moral, manusia telah dibekali kemampuan untuk menempatkan diri sebagai hamba. Ia juga bisa menempatkan diri sebagai makhluk yang memiliki kesadaran bahwa Allah swt adalah Tuhan Yang Mahaberkehendak, Yang Mahamemaksa. Di balik semua kepastian Allah swt, selalu ada hikmah yang mendatangkan kebaikan: segera ataupun tangguh waktu.
Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datangnya) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam (menentang) tanda-tanda kekuasaan Kami.
Katakanlah: "Allah lebih cepat pembalasannya (atas tipu daya itu)". Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu dayamu
Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di
dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah
terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya
semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur"
Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa
(alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Yunus, 10: 21-23)
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar
(Q.S. An-Nisaa, 04: 40)
Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri (Q.S. Yunus, 10: 44)
Komentar
Posting Komentar