Manusia Dan Media
Manusia dan Media
Gerak perkembangan teknologi media kini sudah sangat sulit dibendung. Sejalan dengan hal itu, keberadaan gadget (gawai) untuk keperluan memanfaatkan aneka media informasi juga semakin mudah dan terjangkau. Gawai yang mumpuni dengan harga yang murah kini semakin banyak ditawarkan oleh vendor-vendor layanan jual produk perangkat teknologi media tersebut. Layanan jaringan murah pun semakin beragam dan banyak disediakan oleh para pemilik produk layanan jaringan.
Zaman tahun 1970-an, media informasi yang bisa diakses secaa terbatas terdiri atas koran, radio, dan televisi (masih sangat langka). Kini, untuk mendapatkan informasi ataupun layanan informasi khusus yang memanjakan pengguna ditawarkan di manamana. Keragaman sumber penyebar informasi menjadikan dunia berita masa kini telah mengalami kelebihan beban. Siapa saja bisa menjadi pemberita --benar maupun hoax- dalam banyak media tayangnan informasi. Segera setelah tayang, berita apapun bisa menyebar dengan proses copy-paste berita di setiap sudut lokasi pengguna media. Tidak mengherankan, bisnis berita, layanan penyediaan berita, maupun para pemulung berita dan pemasung berita, subur di mana-mana.
Seorang ahli media berbangsa Yahudi pernah menegaskan bahwa ”jika ingin
menguasai dunia, maka kuasailah media”. Maksudnya, media informasi yang kini telah banyak digunakan dan menyebar hingga ke pelosok kawasan setiap negara, dengan beragam bentuk dan tampilannya, adalah media yang dimaksud. Hal itu dibuktikan, CNN, salah satu lembaga penyiaran milik Yahudi, telah menjadi sumber berita utama dan paling diakses oleh pengguna dan pelayan media. Layanan berita yang mereka sediakan telah diformat dalam bentuk layanan yang mudah dan cepat. Dengan cara seperti itu, begitu banyak pengguna media yang bergantung kepada pemberitaan yang telah disediakan oleh lembaga CNN. Kondisi ketergantung itulah yang kemudian dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif. Penyisipan berita yang ‘diplintir untuk tujuan tertentu’ telah banyak muncul sebagai layanan berita yang mereka sediakan. Itulah sebabnya, pandangan internasional telah mereka kuasai, telah mereka setir sedemikan rupa sehingga mereka bisa bebas menetapkan siapa yang “benar dan salah” dalam inti berita!
Salah satu tayangan menarik yang bisa ditonton di Youtube.com (https://www.youtube.
com/watch?v=Cfu8mz52WsU atau http://laguterbarump3.site/download/ Cfu8mz52WsU/save-imam-shamsi-ali-keberhasilan-dakwah-di-amerika.html), mengenai pembentukan pendapat umum melalui berita media. Jika terjadi penyerangan terhadap kawasan umum, misalnya tentang bom bunuh diri, kelompok tertentulah yang dituding. Kelompok tersebut telah menjadi tranding topic karena telah diblow up secara terus-menerus agar opini publik terbentuk seperti itu. Begitulah, ketika terjadi Bali Blast I dan II, kelompok tertentu yang telah dirancang sebagai kambing hitam, terus menerus diblow up untuk menyatukan opini publik. Ketika pihak lain, misalnya Amerika dan Eropa jelas-jelas tampak kasat mata melakukan pengeboman di kawasan tertentu, kepala-kepala berita yang ditulis menyatakan bahwa kegiatan tersebut dilakukan “demi kebenaran, keadilan, hak asasi manusia --ketika bicara hak asasi mereka lupa ada kewajiban asasi yang sama sekali tidak pernah diperhatikan. Mereka telah menjadi “hakim Internasional”: “yang benar ada pada mereka, yang salah ada pada kelompok lain”.
Gambar ilustrasi satire tentang kejadian masa kini yang sangat absurd Sumber: Jofinno Herian, 15 Mei 2016. https://jalantikus.com/user/jofinno/
Media massa, media sosial, internet beserta jalur-jalur penggunannya, memiliki banyak keburukan. Semua telah banyak dikuasi oleh pemilik jaringan. Kebanyakan masyarakat dunia hanya bisa menjadi “objek” pengguna yang tata aturan penggunaannya telah ditetapkan telah ditetapkan secara ketat untuk keuntungan dan maksud pemilik jaringan. Meskipun banyak hal buruk yang secara gampang bisa didapat melalui layanan tadi, sejumlah hal baik pun masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran. Oleh karena itu, masyarakat muslim masih bis menggunakan layananlayanan tersebut. Bahkan, jika sama sekali tidak pernah mengakses layanan mereka, kemenangan para pembuat berita hoax akan semakin besar posrsinya. Masih bisa dilakukan hal positif dengan memanfaatkan saran yang telah ada. Minimal mengurangi porsi berita buruk yang menyudutkan kelompok tertentu, dengan melakukan pemberitaan yang benar sebagi tandingan.
Masih banyak tokoh masyarakat yang secara kurang sadar telah mudah terbawa arus keburukan berita-berita media. Mereka membuat komentar yang menyesatkan bahkan menjadikan suasana kehidupan sosial menjadi panas. Padahal, seharusnya para pemimpin cukup memberi teladan yang baik kepada bawahan yang mereka pimpin, tanpa perlu ‘gatal’ dengan pemberitaan murahan yang “nyampah”. Kedewasaan sikap dan cara pikir belum merata dimiliki oleh masyarakat. Masih banyak masyarakat yang mudah larut di dalam libatan suasana yang sengaja dirancang untuk mengeruhkan suasana lingkungan. Media sosial sangat rentan dengan banyak issue keburukan, karena sangat efektif jika digunakan untuk menyebarkan informasi apapun dalam kondisi masa kini. Penyebaran berita kebencian seperti yang dilakukan media Saracennews.com, seperti yang sedang diusut dan dipermasalahkan akhir-akhir ini, lebih banyak berhubungan dengan layanan instant, budaya instant, para pelayan informasi, para pengguna informasi, dan para pembutuh informasi instant. Rata-rata msyarakat kurang pedui dengan beban tanggung jawab di balik perbuatan memposting sesuatu informasi yang bisa mengundang bahaya. Mereka hanya tinggal menggunakan kemudahan sistem copy-paste dan modif terhadap isi berita. Rancangan Undangundang KUHP terkait tindak pidana penerbitan dan percetakan, juga tentang penggunaan media cyber telah diupayakan oleh pemerintah. Banyak cara untuk mengurangi keburukan pengelola media dan penggunaan media yang diupayakan untuk mendapatkan hal-hal yang lebih baik.
Sisi baik media sosial, bisa juga digunakan sebagai saran penyampaian materi pembelajaran bagi guru dan dosen. Banyak dosen/guru yang telah terhubung dengan mahasiswa melalui salah satu layanan media sosial. Notebook/laptop, tablet, maupun smartphome masa kini, kini bukan sesuatu yang sulit didapatkan, bahkan hampir semua orang telah memiliki salah satu dari tig jenis gawai tadi. Banyak peserta didik yang telah terampil menggunakan gawai-gawai dimaksud untuk berbagai keperluan, terutama untuk keperluan menikmati hiburan dan berkomunikasi menggunakan aplikasi Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp, dan sejenisnya. Media komunikasi tadi bisa juga dimanfaatkan sebagai wahana menyampaikan materi pembelajaran dan menghimpun proses pembelajaran di luar kelas. Tak ada jarak yang terlalu jauh untuk melakukan aneka kegiatan komunikasi!
Banyak proses administrasi yang kini telah diwajibkan secara melembaga dengan cara daring (online). Semua pemilik data harus berusaha melengkapi seluruh data yang diminta oleh lembaga. Berbeda dengan zaman sebelumnya, pemilik data kerap sangat bergantung kepada satu sumber saja yaitu sumber data milik lembaga. Bagian pengelolaan data adminstratif di lembaga-lembaga tertentu menjadi salah satu penentu lengkapnya himpunan data penting untuk setiap individu pegawai, misalnya. Kini, setelah semua serba diatur menggunakan perangkat kerja berbasis komputer, pengumpulan data telah bisa melibatkan banyak lembaga dalam satu jaringan tertentu, termasuk juga pemilik data. Kegiatan UN, UKG, pendaftaran dan tes(?) calon pegawai, pun telah mulai digarap secar online. Entah, apakah ketersediaan sarana untuk melancarkan kegiatan baik itu telah dipenuhi secara memadai oleh pemerintah? Sangat menyakitkan, ketika semua kegiatan online tesebut tak bisa dilakukan secara benar oleh anggota masyarakat yang tinggal jauh dari kota, atau bahkan dari pusat sumber data. Ketergesaan melakukan pengambilan kebijakan dan tindakan perubahan kerap menjadi kendala yang sangat menyulitkan bagi masyarakat kebanyakan. Tetapi, jika pekerjaan sejenis tidak dimulai segera, menunggu ketersediaan sarana yang lengkap dan mumpuni, boleh jadi kondisi sejenis itu merupakan jalan yang akan sangat menyulitkan dalam pelaksanaannya. Perubahan dan peninjauan serta perbaikan harus sejalan, agar tujuan yang ingin dicapai bisa didekati secara bersama-sama dalam semua usaha.
Komentar
Posting Komentar