Manusia Makhluk Peneliti

MANUSIA MAHLUK PENELITI  


Dasar Kewajiban Melakukan Penelitian 

Allah menuntut calon Nabi, Muhammad saw, untuk melakukan kegiatan pembacaan (iqra) sejak awal tugas kenabiannya. Bahan iqra yang menjadi tuntutan pada saat itu adalah mengenai masalah  penciptaan manusia. Pembacaan yang dituntut adalah pembacaan yang seharusnya memerlukan penelitian yang mendalam. Penelitian itu dimulai dengan mempelajari sesuatu yang paling dekat dengan diri manusia, yaitu tentang dirinya, tentang bagaimana Allah menciptakan diri manusia. Perintah iqra yang dilengkapi dengan pemberitaan yang mendasar tentang penciptaan manusia telah dismpaikan oleh Allah sebagai bahan ajar pertama untuk calon Nabi. Pemberitaan tentang konsep penciptaan berupa kalimat jawaban (mendasar) adalah “Khalaqal insaana min ‘alaq” (“Manusia diciptakan dari segumpal darah”), yang memerlukan pengkajian mendalam. Hal itu terkait dengan paparan pada ayat Allah lainnya yang menjelaskan tentang proses tahap-tahapan penciptaan itu. Itulah dasar penelitian yang utama. Kekuasaan Allah yang tampak di alam pengenalannya berawal dari apa yang bisa diindera oleh manusia karena posisinya jelas dan lebih dekat dengan manusia. Penelitian bisa berlanjut dengan hal-hal yang lebih jauh dari dirinya, tentang hal amat besar maupun amat kecil.  

Surat Al-‘Alaq, 96: 01-05, diketahui sebagai wahyu yang pertama diterima oleh Nabi 
ٱقۡرَأۡ ۡبۡ ٱسۡ مۡۡرَ ب كَ ٱٱذ ذ لَّ لَّييۡۡعَخَ ذلَقَۡ ١ۡۡخَلقََ ٱ لۡۡنسََٰ نَۡ منۡۡعَلَقٍۡ٢ۡۡٱقۡرَأ ۡۡوَرَبُّكَ ٱلۡۡكَۡرَ مۡۡ٣Muhammad saw, yaitu seperti berikut:ۡۡلمَۡبۡ ٱلۡقَل مَۡۡ٤ۡعَ ذلمَۡ ٱ لۡۡنسََٰنَۡ مَا لمَۡۡيَعۡلمَۡۡ٥ ۡ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan 
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah 
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam 
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Q.S. Al-‘Alaq, 96: 01-05) 

Memulai pengamatan tentang sesuatu yang dekat, yaitu diri sendiri, menjadi tuntutan yang paling awal. Dalam salah satu hadits, Nabi menegaskan: “Man ‘arafa nafsahu ‘arafa Rabbahu”: Barangsiapa mengenal (‘arafa) tentang kondisi dirinya maka akan lebih mudah mengenal Tuhannya. Allah juga menetapkan perintah pemeliharaan diri dari keburukan api neraka dimulai dari diri sendiri, dari sesuatu yang dekat dengan diri manusia. Tampaknya, apa yang menjadi tuntutan Allah selalu berawal dari sesuatu yang sangat dekat dengan manusia. Oleh karena itu, sebelum mencari tahu tentang sesuatu yang jauh di luar jangkauan, akan lebih baik mengolah pengetahuan yang terkait dengan hal-hal yang dekat dengan lingkungan. Ini menjadi tuntunan bagi manusia bahwa mengurus lingkungan diri sendiri harus lebih dahulu diselesaikan daripada mengurus sesuatu yang masih kurang jelas, sesuatu yang berada di luar jangkauannya. 

“Ibda binafsika”, adalah satu potongan kalimat hikmah yang telah populer. Perintah memulai sesuatu dari diri sendiri, sejalan dengan perintah Allah swt tentang pemeliharaan diri (autocare) yang dimulai dari kondisi diri, kemudian keluarga terdekat, berlanjut menuju lingkungan yang lebih luas. Pembangunan sistem pemeliharaan diri berbasis keluarga-keluarga menjadi pola pembinaan keimanan dalam 
يأَََٰٓيُّهَا ٱ ذ لَّينَۡۡءَامَ نوا ْۡق وٓا ْۡأنَ فسَ كمۡ ۡ  .وَأهَۡل ي كمۡۡناَرٗاۡوَق و دهَا ٱلنذا سۡۡوَۡٱلۡۡ جَارَةۡ ۡعَليَۡهَاIslam. Begitupun dalam konteks kegiatan lainnyaۡ
مَلَئَٰٓ كَةٌۡ غلََظۡٞ شدَاد ٞ ذلَّۡيَعۡ صونَ ٱ ذللَّۡ مَا ٓۡأمََرَ همۡۡوَيَفۡعَل ونَ مَاۡي ؤۡمَ رونَۡ ٦ ۡ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (Q.S. At-Tahriim, 66: 06) وَۡٱ ذت قواۡ ْۡيوَۡمٗاۡ ذلَّۡتََۡ زيۡنَفۡسٌۡعَنۡ ذنفۡ ٖس ۡشَيٗۡۡ اۡوَلََّۡ يقۡبَ لۡ منۡهَاۡشَفَعََٰة ٞۡوَلََّۡي ؤۡخَ ذۡ
منۡهَاۡعَدۡلٞۡوَلََّۡ همۡۡي ن صََونَۡ٤٨ ۡ
Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa´at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong (Q.S. Al-Baqarah, 02: 48) وَۡٱ ذت قواۡ ْۡيوَۡمٗاۡت رجَۡ عونَۡف يه ۡإ لََۡٱ ذللّۡ هۡ ث ذمۡت وَ ذفََّٰۡ ۡكُّۡنَفۡ ٖسۡ ذماۡكَسَبَتۡۡوَ همۡۡلََّۡ يظۡلَ مونَۡ ۡ
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) (Q.S. Al-Baqarah, 02: 281) يأَََٰٓيُّهَاۡٱ ذ لَّينَۡۡءَامَ نوا ْۡعَلَيۡ كمۡۡأنَ فسَ ك مۡهۡلََّۡي ضَُُّ كمۡ ذمنۡضَ ذلۡإ ذَاۡٱهۡتَدَيۡ ت مۡۡۡإ لََۡ
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat ٱ ذللّۡ مَر جۡ ع كمۡۡ جََيعٗاۡفَ ينَ ب   ئ كمۡب مَا كن تمۡۡتَعۡمَل ونَۡ ١٠٥ ۡ
kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Al-Maaidah, 05: 105) 


7.2 Kewajiban Meneliti dan Derajat Manusia di Sisi Allah 

Wahyu Allah yang diturunkan pertama kepada Nabi Muhammad adalah surat Al-’Alaq ayat 01-05. Pada ayat yang kelima Allah memberi jaminan tentang pengetahuan yang akan didapatkan oleh orang-orang yang mau melakukan pengiqraan, penelitian. 
“’Allama al-insaana ma lam ya’lam” (Allah akan memberi pengetahuan kepada manusia tentang segala yang tidak diketahuinya). Pada ayat lain Allah memaksa manusia untuk selalu berusaha memperhatikan kejadian-kejadian yang ada di alam, bahkan tentang kejadian yang pernah terjadi pada masa lalu, masa manusia pertama hingga manusia-manusia kemudian. Allah menggambarkan bahwa manusia masa lalu itu lebih kuat, lebih gagah, lebih panjang usianya, sehingga peninggalannya pun lebih kentara. Piramida di Mesir, bola-bola batu asli di Amerika, lukisan raksasa di Amerika, rumah-rumah batu di Jazirah Arab, adalah sedikit bukti yang menunjukkan berita Allah. Semua itu harus menjadi bahan pelajaran bagi manusia masa kini. 

Sejalan dengan janji Allah tentang derajat orang yang memiliki ilmu akan lebih tinggi dibanding orang yang tidak memiliki ilmu, telah terbukti juga. Allah telah meninggikan derajat orang-orang kafir yang sadar-ilmu, sekalipun mereka tidak beriman, dibanding orang-orang muslim yang mengaku beriman tetapi tidak sadar-penelitian. Derajat duniawi yang telah dicapai oleh kelompok orang kafir telah membuktikan bahwa janji Allah itu benar adanya. Tetapi, mengapa ummat Islam masih belum bangkit kembali memperbaiki prestasi yang pernah didapatkan pada masa Nabi dan para sahabatnya hingga masa pemerintahan khalifah Harun Al-Rasyid? Sebuah dilema yang rumit, karena banyak orang yang mengaku Islam posisinya berada pada kondisi marjinal, belum memiliki kekuatan, semangatnya belum muncul sejalan dengan kesadaran keilmuannya yang masih ketinggalan. 

Ada satu pernyataan yang menantang ummat Islam masa kini, pernyataan Nabi saw yang menyatakan bahwa generasi terbaik ummat ini adalah para sahabat Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sebaik-baik manusia. Lantas disusul generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya. Tiga kurun ini merupakan kurun terbaik dari umat ini. Hal itu bisa diperiksa dalam hadits yang diriwayatkan dari Imran bin 
Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَيَْْۡأ  مَ تِۡقرَْ نِۡ ث مَۡا  لََّيْنَۡيلَ ونَ همْۡ ث مَۡا  لََّينَۡيلَ ونَ همْۡ 
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka. ”(Shahih Al-Bukhari, no. 3650) 

Di dalam Al-Quran Allah swt juga menegaskan tentang keberadaan posisi dan kondisi masyarakat masa lalu yaitu assaabiquunal-awwaluun, mereka yang pertama menyatakan keislaman di hadapan Nabi saw. Tak perlu dipertanyakan, kondisi dan kualitas mereka, karena pengetahuan, pemahaman, dan sekaligus prilaku mereka terbimbing langsung oleh Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, perilaku mereka, perilaku yang selalau terbimbing oleh Nabi, menjadi teladan untuk generasi selanjutnya.   
ٱ ذوَۡٱ لللّۡۡ ذسَٰعَب نۡ ق هومۡۡنَۡوَٱرلَۡۡ ذضَول وا ْونَۡعَنۡ م هۡنَوَۡٱألَ عَمۡ ذدهَ ل جَٰ هَ رمۡينَۡجَ ذنوَۡٱتَٰٖلَۡۡۡنتََۡصَ رارۡ يۡوَۡٱ ذتََۡ لَّتَيهَانَۡ ٱٱ ذتلۡۡبََن عهَۡو رَٰۡ هۡمخَۡب  إ  لَِٰينَۡف يهَا ٓۡأبدَٗاۡ حۡسََٰنٖ ذر ضََِۡ
ذَلَٰ كَ ٱلۡفَوۡ زۡ ٱلۡعَ ظي مۡۡ ١٠٠ ۡ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan 
merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungaisungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At-Taubah, 09: 100) 

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan untuk mengikuti para sahabat. Berjalan di atas jalan yang mereka tempuh. Berperilaku selaras dengan apa yang telah mereka perbuat. Menjalani manhaj (cara pandang hidup) sesuai manhaj mereka. Firman Allah swt:  
ٱلدُّوَإِننۡيَاجَمَهََٰعۡدَ راوكَفٗا ه وَۡٱعََلََٰٓتذ ب أعۡۡنَۡ ت سَب ي شۡۡلَكَ مَ بِنۡۡمََأاناَلَيۡبَ إ سَ ذلََل ثكََ ذم بإ  هۡ ذلََۦ مَ عرلۡ جۡمٞ عۡفَ لََ ت ط عۡ همَا ه وَصَا حبۡ همَكاۡن ت مۡفِۡۡلوۡنَۡ١٥ ۡ
تَعۡمَ كمۡۡفَأن بَ ئ كمۡب مَا  
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di 
dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-
Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Luqman, 31: 15) 
يأَََٰٓليُّهَ اكَۡٱمۡهۡ ذ لَّيوَإِذَنَۡاۡۡءَق ايمَ لَنوٓٱاْ نۡإ ذَ اشُۡوق اْ ۡيفَۡ لَۡٱنۡل شُ كَوا ْمۡۡۡيتَرَۡفَفَ ذ عس ٱ ح ذو اللّْۡ ۡ ٱ ذفِ لَّۡٱيلنَۡمَۡ ءَاجَلَٰمَ ن وا ْسۡۡ مۡفَنٱفۡ سَكمۡ حۡووَۡۡا ْٱۡ ذيَفۡسَ حۡٱ ذ ْ ۡللّۡ لَّينَۡۡأوتواۡ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapangدَرَجَ ٖۚتَٰٖۡوَۡٱ ذ للّۡۡب مَاۡتَعۡمَل ونَۡخَب يْۡ ٞ ١١ ۡ-lapanglah dalam majlis", maka ٱلۡ ع لۡمَۡ
lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah 
kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu 
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui 
apa yang kamu kerjakan (Q.S. Al-Mujaadilah, 58: 11) 
وَت لۡكَۡۡ ح ذج تنَا ٓ ءَاتَيۡنَهََٰا ٓ إ برَۡهَٰ يمَ عََلََٰۡقوَۡم هۡ  ۦۡۡ نرَۡفَ ع دَرَجَتَٰٖ ذمنۡن ذشَا ءٓ ُۗ إ ذنۡرَ ذبكَۡKami  حَ كيمٌۡعَل يمٞۡ٨٣ ۡDan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. 
tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-An’aam, 06: 83) 
وَل ٖكۡۡدَرَجَتَٰٞۡ م ذماۡعَ مل derajat (seimbang) dengan apa yang  و-ا ْۡوَمَ اۡرَبُّكَۡب غَ فَٰ ٍلۡعَ ذماۡيَعۡمَل وmasing orang memperoleh derajat-نَۡ١٣٢ ۡDan masing
dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (Q.S. Al-An’aam, 06: 132) 
أ هَمۡۡ يَقۡ س مونَ رحََۡۡتَ رَ ب كَ نََۡ ن قسََمۡنَاۡ بيَۡنَ هم ذم ع يشَتَ همۡ فِ ٱلَۡۡيَوَٰةۡ ٱلدُّنۡيَاۡ وَرَفَعۡناَۡبَعۡضَۡ همۡۡفوَۡقَۡۡبَعۡضٖ دَرَجَتَٰٖۡۡ لَۡۡ ذت خذَ بَعۡ ض همۡبَعۡضٗاۡ سخۡ ر يٗاُۡۗوَرحََۡۡ تۡرَ ب كَۡۡخَيْۡ ٞۡ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka م ذماۡيََۡمَ عونَۡ ٣٢ ۡ  
penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas 
sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan  (Q.S. Az-Zukhruuf, 43: 32) 

Allahlah yang memiliki hak membagi-bagikan dan memosisikan derajat kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Artinya, seperti pada prinsip pembagian ilmu Allah, Allah menurunkan ilmu ke alam ini untuk siapa saja yang siap dan mau mengelolanya. Allah swt tidak memperuntukkan kesempatan pengelolaan ilmu kepada yang beriman semata. Itulah Rahman Allah swt atas semua makhlukNya. Ketika masyarakat yang menguasi ilmu itu adalah masyarakat yang tidak beriman, ketinggian derajat yang telah dijanjikan oleh Allah swt tetap diberikan sekalipun hanya pada kondisi dunia. Mereka yang telah diizinkan Allah swt untuk menguasai ilmu tertentu, sekalipun belum lengkap dengan keimanannya, telah diberi kekuasaan di atas Dunia. Tetapi, janji Allah swt yang lengkap untuk kekuasaan dan kebahagiaan Dunia dan Akhirat, harus ditebus dengan dua hal yang utama: menguasai ilmu dan sekaligus beriman. Keberimanan menjadi hal utama ketika seseorang ingin meraih derajat terbaik di sisi Allah swt: keberimanan yang dipenuhi penguasaan ilmu.     

7.3 Kewajiban Menerapkan Pendekatan Islami dalam Kegiatan Ilmiah 

Al-Quran adalah sumber ilmu pengetahuan global. Al-Quran harus diolah-tafsir isinya.  
Oleh karena itu, Al-Quran harus menjadi sumber acuan keilmuan bagi manusia muslim. Jika manusia muslim berani menggunakan sumber acuan berupa buku-buku hasil penelitian manusia yang kesahihan hasilnya masih bisa dipertanyakan, mengapa ummat Islam tidak begitu berani menggunakan sumber Al-Quran sebagai acuan dalam aneka keputusan penelitian? Al-Quran adalah sumber acuan yang kebenarannya mutlak, tidak perlu diuji ulang, tidak perlu dipertanyakan. Semua isi Al-Quran telah mendapat jaminan dari Allah, Pencipta dan Pemelihara Alam serta segala isinya, tentang kebenarannya yang mutlak. Tetapi, masih banyak ummat Islam yang ragu tentang keimanannya terhadap kebenaran mutlak Al-Quran. Atau, ada sejumlah ummat Islam yang masih memiliki anggapan bahwa Al-Quran hanyalah kitab keagamaan yang tidak terkait dengan masalah duniawi, apalagi teknologi (kebanggaan para modernis). 

Isi Al-Quran mencakup segala segi ilmu pengetahuan yang akan dan telah ditemukan oleh manusia. Penemuan-penemuan masa kini telah tercatat lebih awal dalam kandungan Al-Quran. Tentang ilmu fisika yang mempertanyakan alam dan isinya, telah begitu jelas menjadi bagian dalam Al-Quran, misalnya bagaimana Allah mengatur semua benda alam itu dengan posisi dan kelengkapan aturan-Nya. Ketika penemuan itu datang dari ilmu Barat, orang Islam seolah begitu yakin tentang kebenarannya. Padahal hal itu di dalam Al-Quran telah termaktub, tinggal ummat Islam mau kembali memperdalam pemahaman isi Al-Quran secara lengkap.  

Lahirnya ilmu-ilmu duniawi yang hebat ada pada tuntunan dan sekaligus tuntutan yang telah diceritakan di dalam isi Al-Quran. Allah swt sengaja meninggalkan sejumlah bukti yang berkaitan dengan manusia masa lalu, yang pernah disebutkan lebih kuat dan lebih pintar. Seperti pernah disinggung, sejumlah tinggalan budaya fisik yang membuka mata manusia masa setelahnya, sengaja Allah swt jaga agar masih bisa diteliti dan ditemukan data-data tentangnya. Begitupun kondisi alam yang empat belas abad yang lalu diceritakan dalam isi Al-Quran. Boleh jadi ketika Allah swt menceritakan dua samudera dengan kondisi air yang berbeda rasa, bertemu dalam satu kawasan, masing-masing membawa sifat sendiri-sendiri, tidak mau bercampur, belum bisa menyentuh rasa takjub manusia. Tetapi kini, setelah empat belas abad orang Islam tahu tentang hal itu, baru belakangan ini bisa lebih yakin dengan fakta nyata tentangnya. Samudera berair tawan dan asin yang menawan itu, kin telah menjadi destinasi wisata yang sangat menarik. Begitupun tentang sungai di dalam lautan, gunung aktif di dalam lautan, maupun hal lain yang di luar nalar manusia dengan ilmu pengeatahuannya. 

Tugas ilmuwan muslim, insya Allah bisa, adalah menemukan begitu banyak bukti nyata di lapangan tentang apa yang menjadi bahasan di dalam Al-Quran. Oleh karena itu, isi Al-Quran harusnya menjadi sumber awal kegiatn penelitian, bukan buku karangan manusia atau sekadara laporan hasil penelitian manusia. Sumber otentik, kebenaran mutlak, ada dalam isi Al-Quran. Itulah gerakan publik yang harus dilakukan oleh para ilmuwan muslim, yaitu menempatkan Al-Quran sebagai sumber rujukan utama semua kegiatan keilmuan masa kini.   


Dua samudera yang berisi air yang berbeda, tawar dan asin, di Selat Gibraltar menjadi fakta kebenaran isi Al-Quran (Al-Furqan, 25: 53; Fathir, 35: 12; dan Ar-Rahman, 55: 19-20), juga 
pertemuan dua sungai di kawasan Swiss dan di daerah Genewa Switzerland. Sungai lain berada di bawah lautan yang ditemukan Mr. Jaques Yves Costeau warga Francis yang akhirnya memilih 
menjadi muallaf setelah penemuan tersebut. Begitupun tentang api yang tetap hidup di dalam air. Semua menjadi bukti kebesaran Allah swt yang tak bisa dibantah. Sebagian ceritanya tertera di dalam Al-Quran yang telah diwahyukan Allah swt kepada Nabi terakhir, sebagai mukjizat yang sejalan dengan tuntutan zamannya. (Dari berbagai sumber) 
   
Ada issue tentang pernyataan menteri pendidikan bahwa mata kuliah Pendidikan Agama akan ditempatkan pada semester akhir perkuliahan para mahasiswa S1. Entah 
“goyangan” apa lagi yang dikemukakan oleh menteri ini. Sebelumnya ada program Full Day School, yang belakangan dikritisi banyak pihak dan akhirnya diberitakan permennya dibatalkan oleh presiden; program lainnya akan melepas Pendidikan Agama dari kurikulum sekolah dan diserahkan pelaksanaannya kepada sekolah diniyah (Agama Islam) dan lembaga-lembaga keagamaan di lingkungan masyarakat. Issue terakhir, seperti disebut di awal paragraf ini, adalah menempatkan mata kuliah Pendidikan Agama pada semester akhir. Hal ini banyak dikritisi oleh para pengajar MPK. Padahal, pada awal pembahasan mata-mata kuliah wajib di PT umum adalah sebagai landasan keilmuan yang diharapkan bisa mewarnai keilmuan bidang studi. Oleh karena itu, mata kuliah jenis ini, termasuk Pendidikan Agama, ditempatkan pada semester-semester awal perkuliahan. Tampaknya, pada kurikulum 2013 untuk sekolah dasar dan menengah, kondisi harapan tadi baru diterapkan. Kurikulum 2013 menempatkan materi keagamaan menjadi bagian bahasan awal yang menempel pada setiap memulai proses pembelajaran. Lalu, terkait dengan issue tadi?   

Pada kenyataannya di lapangan, perubahan jumlah jam mata kuliah MPK, khusus Pendidikan Agama, telah beberapa kali mengalami pergantian kebijakan. Tahun 1978, mahasiswa pada PT umum masih mendapatkan Pendidikan Agama dalam 3 kesempatan: mata kuliah Pendidikan Agama 1 dan 2 serta Seminar Agama. Tiga mata kuliah uantuk pendalaman masalah keagamaan di PT umum memang dianggap tidak cukup. Apalagi pada kurikulum masa kini yang hanya menyediakan 2 jam perkuliahan saja untuk pendalaman materi pendidikan agama. Sulit untuk mendapatkan gambaran lempang tentang pendidikan agama yang bisa mewarnai kajian-kajian bidang keilmuan setiap mahasiswa. Tetapi, pada masa kini, sumber belajar yang bisa diakses oleh mahasiswa sangat banyak dan beragam. Artinya, jika mahasiswa hanya bergantung kepada penyampaian materi pendidikan agama yang disampaikan oleh dosen di kelas, sungguh tidak akan mendapatkan bekal yang mencukupi. Hal itu, bisa diupayakan dengan cara blended learning yang diupayakan oleh dosen agar mahasiswa bisa mengakses lebih banyak informasi tersaring melalui pilihan-pilihan materi hasil pencarian dosen. Yang bisa mengikat ketekunan mahasiswa melakukan program tersebut adalah pemaksaan: tugas kuliah. Tanpa paksaan, upaya keras perbaikan tidak mungkin bisa dilakukan. 


7.4 Tuntuan Allah dalam Wahyu Pertama 

Segala ilmu yang beredar di alam ini adalah ilmu Allah swt. Sumber segala ilmu adalah yang Mahatahu, Allah swt pemilik segala ilmu pengetahuan. Allah swt menurunkan ilmu kepada manusia hanya sedikit saja. Ilmu Allah swt yang tidak diberikan pengetahuannya kepada manusia masih Mahaluas. Oleh karena itu, pada dasarnya, setiap ilmu lahir secara Islami. Tidak ada ilmu yang sekuler. Tidak ada sistem ilmu yang mengarah kepada kekufuran. Allah swt tidak membatasi keberhasilan para pengolah ilmu berdasarkan sisi keimanannya. Sama seperti hak mendapatkan rezeki, Allah swt memberikan rezeki dan ilmu kepada semua manusia tanpa kecuali. Kata kunci terkait dengan kesempatn menguasai rezeki dan ilmu adalah mau mengelola dan berusaha mengolah rezeki dan ilmu tersebut. Yang menyebabkan ilmu “tampak” tidak 
Islami adalah karena sikap para ‘alim, para pengelola ilmu, para ilmuwan, yang memanfaatkan ilmu di luar jalur keridhoan Allah    

Allah swt telah berfirman secara jelas dalam Al-Quran surat Al-‘Alaq, 96: 01-05, tentang proses keberilmuan seseorang dicontohkan lewat uswah hasanah Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad diminta untuk “membaca” (lebih daripada sekadar membaca secara harfiah, tetapi mengkaji, meneliti, menganalisis, merumuskan, dsb.) tentang awal kejadian manusia secara Ilahiyah. Tentu, ketika tuntutan itu disampaikan melalui malaikat Jibril dalam proses turunnya wahyu pertama, Nabi Muhammad saw hanya bisa berkata: “Maa Ana bi-qaari!”. Memang, keummian Nabi, kemudian menjadi penanda hikmah yang setelahnya baru disadari oleh para ahli, adalah terkait dengan pertanyaan gencar dan sengit dari orang-orang kuffar yang mempermasalahkan inti kandungan Al-Quran sebagai buatan Nabi sendiri. Seorang Nabi yang dikondisikan ummi (tak bisa membaca dan menulis) oleh Allah swt tidak mungkin membuat sesuatu sekelas isi Al-Quran. Dan, ketika diketahui bahwa kondisi Nabi itu ummi, sangkaan bahwa isi Al-Quran itu buatan Nabi Muhammad saw masih terus dilontarkan. Apalagi jika Nabi dalam kondisi tidak ummi, ketidakpercayaan atas isi wahyu Allah swt itu akan semakin menjadi-jadi. 

Tuntutan Allah swt kepada NabiNya pada awal diangkat menjadi seorang rasul, ternyata adalah bentuk penyiapan mendasar tentang kemampuan manusia untuk menjadi peneliti. Pernyataan Allah swt yang lengkap tentang hal itu adalah termaktub dalam surat ke 96: 05, yaitu: ‘Allama-al-insaana maa lam ya’lam’ (Yang mengajari manusia tentang segala sesuatu yang tidak diketahuinya). Ayat ini berisi janji Allah swt. Allah akan memberi kefahaman kepada siapa saja tentang segala sesuatu yang belum pernah diketahui oleh seseorang. Tentu semua itu hanya bisa didapat dengan usaha, melalui proses pengelolaan ilmu Allah swt, melalui penelitian. Bukti tentang janji Allah swt telah banyak kita temukan di lapangan, tetapi masih saja banyak manusia tidak begitu yakin tentang hal itu. 

Banyak tafsir yang dilakukan oleh para ulama tentang peprintah Iqra kepada Nabi Muhammad saw. Salah satu tafsir yang terkait dengan makna perintah tersebut: “Bacalah yang tertulis, sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah. Bacalah yang didiktekan, diajarkan oleh utusan Tuhan. Sampai kamu sendiri mengerti dan yang mendengar memahami. Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.” Dari sejumlah tafsir yang diuraikan oleh para ulama, dapat diambil dua inti persoalan yang menjadi tuntutan dalam perintah Iqra: Pertama, bacalah ayat-ayat Allah sebagai kalamullah yang termaktub dalam Al-Quranul Karim (al-Aayaat al-Qauliyyah). Kedua, bacalah ayat-ayat Allah yang tercipta dan terbentang di alam semesta (al-Aayaat al-Kauniyah). (https://hmasoed.wordpress.com 
/2011/01/10/iqra%E2%80%99-perintah-pertama-kepada-nabi-saw/) 


7.5 Perlukah Islamisasi Sains? 

Segala ilmu yang beredar di alam ini adalah ilmu Allah. Allah menurunkan ilmu kepada manusia hanya sedikit saja. Masih Maha Luas ilmu Allah yang tidak diberikan pengetahuannya kepada manusia. Allah tidak membatasi keberhasilan para pengolah ilmu berdasarkan ketaatan para pengelola ilmu kepada Allah. Seperti rezeki, ilmu Allah ditebar di alam untuk sipapun yang mau mengelolanya. Artinya, Allah memberi kebebasan kepada siapapun untuk mendapatkan ilmu Allah, untuk memanfaatkan dan merasakan nikmat hasil mengolah ilmu Allah. Seseorang yang hanya memiliki pengakuan (syahadah) beriman kepada Allah, tetapi tidak pernah mempunyai semangat juang untuk mengelola ilmu Allah, posisinya secara keduniawian, berada di bawah orang-orang yang sungguh-sungguh memiliki semangat untuk mengolah ilmu Allah. Keberimanan, termasuk amal shalih sebagai bentuk pernyataan eksistensi iman di dalam diri seseorang, sangat memerlukan dukungan ilmu. Beriman tanpa berilmu, lebih banyak dipenuhi perilaku taqlid, ikut-ikutan, membebek. Di dalam Al-Quran disebutkan gambar perilaku para pembebek sebagai orang-orang yang patuh dan taat kepada sistem “aabaauhum”. Pola perilaku ini lebih bersifat ikut-ikutan tanpa dasar pengetahuan, hanya erpedoman kepada “bagaimana para pendahulu melakukan sesuatu”. 

Ilmu Allah adalah ilmu yang Islami. Semua hasil olahan ilmu Allah, pada awal pengolahan dan hasilnya, mengusung sifat Islami. Tetapi, pemanfaatan hasil olahannya yang kerap menyimpang dari sifat utama ilmu Allah, karena perilaku manusia penggunanya. Tak ada sesuatu yang dihalangi oleh Allah dalam penggunaannya, oleh siapa pun ilmu itu dikelola. Bidang-bidang ilmu yang selama ini dianggap sebagai ilmu sesat, pada dasarnya adalah ilmu Allah juga yang disediakan sebagai penyeimbang dan cobaan bagi manusia. Allah memberi izin penemuan dan penggunaan nuklir. Proses penemuan nuklir, ilmu tentang nuklir, konsep asasi sifat nuklir, ada dalam tatanan ilmu Allah (sunnatullah) yang Islami. Para pengguna yang kemudian menyelewengkan fungsinya untuk kegiatan yang bertentangan dengan sifat asasi kebermanfaatan dan kemaslahatan ilmu Allah. Dan, Allah mengizinkan kondisi tersebut. Begitupun ilmuilmu lain yang mendasari perilaku zhalim manusia, bahkan kemudian kerap melibatkan mahluk Allah yang lain, yaitu sebangsa Jin, adalah ilmu Allah yang posisinya sama dengan keberadaan nuklir. Bahan nuklir dan ilmu kezhaliman tadi, sangat kental terkait dengan perilaku manusia sebagai pengguna ilmu. Bangsa jin, misalnya, sekalipun diberi kesempatan bisa mengelola ilmu tersebut, tetap memerlukan manusia sebagai katalisator kezhaliman. Antarjin, tampaknya, tidak pernah ada berita pertentangan. 
Tetapi antarmanusia, pertentangan kerap terjadi dan bahkan dibantu oleh bangsa jin. 

Ilmu tentang mesin-mesin penghancur, tentang kelicikan politik, tentang suap, tentang maling, tentang cloning, tentang korupsi, dan masih banyak lagi, diizinkan oleh Allah tetap hidup dan bisa terus dikembangkan. Allah mengizinkan keberadaanya, tetapi Allah tidak ridha dengan hasil olahan ilmu tersebut. Allah telah menetapkan sifat hukum dasar keseimbangan yang menjadi pilihan ‘bebas’ bagi manusia, sebagaimanan manusia yang telah diberi kesempatan untuk bisa menentukan pilihannya sendirisendiri. 
فَأَلهَۡمَهَاۡف جورهََاۡوَتَقۡوَى هََٰاۡ٨ ۡ
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 
(Q.S. Asy-Syams, 91: 08) 

Terkait dengan ketersediaan pilihan, Allah juga telah menetapkan segala sesuatu dalam kondisi berpasangan-pasangan. Pada kondisi tersebut, tersirat satu konsep keseimbangan asasi dalam segala hal. 
وَۡٱ ذ للّۡ خَلَقَ كم من ت رَابٖ ثذ م من نُّطۡفَةٖ ث ذم جَعَلَ كمۡ أزَۡوَجَٰٗا وَمَاۡ تََۡ م ل منۡ أنثَََٰۡ
وَلََّۡتۡضََ ع إ ذلَّۡب ع لۡ مهۡۡ  ۦۡۡ وَمَاۡۡ يعَۡذ م ر مۡن مُّعَ ذمرٖ وَلََّ ي نقَ صۡ منۡ ع م ره ۦۡٓۡإ ذلَّۡ فِ ك تَ ٖۚبٍَٰۡ
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu إ ذن ذَلَٰ كَ عََلَۡ ٱ ذلۡلّۡ ۡي سَۡيْۡ ٞۡ١١ ۡ
berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan 
umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah  (Q.S. Faathir, 35: 11) سبۡحَنََٰۡۡٱ ذ لَّيۡخَلَقَۡٱلَۡۡزۡوَجََٰۡۡ كُ ذهَاۡ م ذم اۡت نۢب  تۡٱلۡۡرَۡ ضۡۡوَ منۡۡأنَ ف س همۡۡوَ م ذماۡلََّۡ 
يَعۡلَ مونَۡ٣٦ ۡ
Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui  (Q.S. Yasin, 36: 36). 
 ثخَمََنَٰلَ يَقَةَ أ كَزۡموَ  م ٖۚجَٰٖنيََۡۡ ذنل فۡ قسٖ كۡوَمۡ  حَٰفِدَة بٖ  ث ذم جَ عَلَ منۡهَا زَوجَۡهَاا  موَأنَنۢزَبَلَعۡۡ ل دَ خَكَلۡمقٖ  م نَفِ ٱ ظلَۡۡل نمَعَۡ مَٰۡتَٰٖۡۡ ثلََ ٖۚثَٰٖ ذَلَٰ  ك م ٱ ذ للّۡۡرَبُّ كۡطمۡو ن لََۡ أٱل ذم مۡهَلۡتَٰ  كۡ ه كمۡۡلََّۡ ٓ إ خَلَلۡهََٰقٗإ ذلَّۡ هوَۡ ه فَأ ذنََّٰۡت صََۡف ونَۡ٦ ۡ

Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan[1306]. Yang (berbuat) demikian itu 
adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain dia, maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? (Q.S. Az-Zumar, 39: 06) 

[1306] Tiga kegelapan itu ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim. 
فاَ ط رۡ ٱل ذسمَوََٰ تَٰۡ وَۡٱلَۡۡرۡ ٖۚ ضۡ جَعَلَ ل كَم منۡ أنَ ف س كمۡ أزَۡوَجَٰٗا وَ منَ ٱلَۡۡنعَۡ مَٰۡ أزَۡوَجَٰٗاۡ 
Dia pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan يذَۡرَ ؤ كمۡۡف ي ٖۚهۡ ۡلَيۡسَۡ كَ مثۡل هۡ ۦ شََۡۡء ٞ ه وَ هوَ ٱل ذس مي عۡ ٱلَۡۡ ص يْۡۡ١١ ۡ-pasangan 
dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak 
dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat (Q.S. Asy-Syuuraa, 42: 11)  

Dalam keseharian kita mengenal istilah yang berpasangan: baik-buruk, benar-salah, senang-susah, kanan-kiri, Surga-Neraka, yang semuanya menjadi patokan dan pilihan bagi manusia. Dalam kaitan olahan ilmu, Allah swt juga menempatkan dua hal berbeda tersebut sebagai bentuk keseimbangan posisi dan peran, dalam sains, teknologi, filsafat, dan juga temuan-temuan manusia lainnya.   

Seperti telah disebutkan di atas, sains dan teknologi sebagai bentuk hasil olah ilmu, adalah sesuatu yang telah Islami karena semua bersumber dari ilmu Allah swt. Sains dan teknologi adalah bagian dari ilmu Allah swt yang dibagi-bagikan secara acak kepada siapapun yang memiliki keteguhan hati untuk mengolahnya. Allah swt tidak pernah membeda-bedakan penerima dan pengamal ilmuNya. Semua pengelola ilmu diberi kesempatan untuk mendapatkan hasil duniawi yang telah dijanjikan oleh Allah swt, yaitu kemuliaan di antara manusia-manusia lainnya. Sementara itu, janji Allah swt lainnya yaitu kemuliaan ukhrawi, baru bisa didapatkan oleh para pengelola ilmu yang mendasari kegiatannya dengan keimanan. Ilmu dan iman menjadi dua serangkai kondisi kepemilikan yang harus digali untuk mendapatkan derajat yang lebih tinggi dalam kehidupan kini dan nanti. 

Sains diterjemahkan dengan pengertian ilmu pasti dan ilmu pengetahuan tentang alam. 
Ia merupakan gabungan dari kata ilmu (“pengetahuan yang disistematikkan” [Poeradisastra, 1981: 01]), pasti (logis, objektif, empiris, terdalil), pengetahuan (“kumpulan fakta yang saling berhubungan satu sama lain mengenai sesuatu hal tertentu” [Poeradisastra, ibid]), alam (alam nyata yang dicerap indera dan empiris). Ilmu pasti (biasanya menunjuk kaji-kajian yang bersifat matematis) lebih sering dirangkai dengan ilmu alam, menjadi ilmu pasti-alam. Oleh karena itu, tahun 70-an jurusan di SMA salah satunya disebut sebagai jurusan paspal (ilmu pasti dan pengetahuan alam). 

Teknologi, alihan kata dari technology. Dalam Kamus Inggris-Indonesia, misalnya yang disusun oleh Wojowasito (1982: 422), biasa diartikan ilmu pengetahuan tentang segala kepandaian membuat sesuatu. Poeradisastra menambahkan, kepandaian tersebut adalah untuk tujuan “meninggikan tingkat hidup manusia melalui perombakan kembali alam sekitar, memaksa alam mengabdi kepada manusia”. 

Sains dan teknologi tidak lahir tanpa pengolahnya, yaitu praktisi sains dan teknologi. Untuk menunjuk batasan sains secara pasti, dalam Ilmu Humanika, Hidayat Nataatmaja (1984: 31-33) membedakannya dengan pengertian ilmu. Ilmu, tulisnya, benar-benar menunjukkan pada sesuatu yang gaib, sedangkan sains menunjuk pada bagian ilmu yang bisa dilihat, dibaca, dinayatakan dalam ungkapan yang rasional dan dalam arti tertentu: bisa dipinjam dan ditiru.  Hidayat mengambil salah satu konsep keilmuan yang 
Islami: “Al-ilmu fii-ash-shuduur la fii-ashshuthur” (Ilmu itu ada di dalam hati, bukan di dalam buku).  

Dalam buku yang lain, Karsa Menegakkan Agama dalam Dunia Ilmiah: Versi Ihya Ulumiddin, Hidayat (1982: 21-25) mengawali bahasannya seperti ini: 
“Bahwa Al-Qur’an seharusnya dipandang sebagai sumber dari segala keilmuan, tidak perlu kita permasalahkan lagi. Banyak kaum inteligensia Muslim yang mengungkapkan bagaimana penemuan-penemuan ilmiah yang paling mutakhir sekalipun ada diungkapkan dengan bahasa simbolik dalam Al-Qur’an, …”   

Kemudian Hidayat mengungkapkan keheranannya: 
“Tapi --yang paling aneh-- mengapa yang menemukan ilmu-ilmu bukan kaum muslimin? Kaum muslimin baru menyadari bahwa ilmu itu ada dalam Al-Qur’an sesudah ilmu itu diketemukan orang! Itulah contoh, bagaimana kaum Muslimin selalu tertinggal dalam membangun teknologi dan datang terlambat menafsiran kebenaran ilmu dari Al-Qur’an”. 

Selanjutnya dia juga menulis: 
“…. bukankah manusia disuuruh berpikir dan bukannya disuruh menghafalkan ayatayat suci? Bukan mustahil ilmu Allah dalam segala perinciannya ada dalam Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengkiaskan bahwa ilmu Allah itu tidak bisa dituliskan dengan tinta sebanyak air di lautan sekalipun? Bukankah Al-Qur’an bisa ditulis dengan sebotol tinta?” 

Beberapa penggal rumusan tadi bisa kita manfaatkan untuk menemukan jawaban, siapakah praktisi sains itu. Sebagai Muslim dan Muslimat, tidak mungkin akan menyatakan bahwa ilmu Allah swt tidak Islami. Yang tidak Islami, yang perlu pengislaman adalah para pelakunya, ilmuwan, praktisi sains. Ibarat sebuah senjata, pada awalnya hanya sebagai benda yang tidak memiliki ‘nyawa’, tak berbahaya, sama seperti kertas, kayu, daun, bunga, dan sebagainya. Tetapi ketika senjata itu dipegang oleh orang yang tidak memiliki nilai Islam, senjata itu, atau benda-benda itu, bisa menjadi sesuatu yang bernyawa, berbahaya, mengancam, merusak, bahkan menghancurkan. 
Senjata, mengacu kepada pengertian terdahulu, adalah salah satu hasil teknologi. Senjata lahir karena dilatarbelakangi hasil olah ilmu. Seorang penggubah senjata bisa membuat benda rancangannya karena menguasai ilmunya. Lalu, siapakah praktisi teknologi?   

Seperti praktisi sains, praktisi teknologi adalah manusia yang memiliki latar belakang kondisi tertentu. Semua benda yang dirancang oleh manusia, berdasarkan bimbingan ilmu Allah swt, pada awalnya untuk mendaangkan kemaslahatan manusia sendiri. Tetapi, karena masing-masing manusia memiliki sifat tidak rasional --Edward de Bono membandingkan manusia dengan binatang yang lebih rasional dalam bertindak: bisa menentukan ya dan tidak-- sifat ini mengarahkan manusia kepada kondisi perubahanperubahan. Oleh karena itu, bimbingan dan pedoman selalu diperlukan oleh manusia agar manusia bisa memaslahatkan hidupnya dan lingkungannya. Allah swt menganugerahkan aneka pilihan hanya kepada manusia, kepada mahluk lain Allah swt tidak memberikan hal itu. 

Sains dan teknologi selama ini telah dipisahkan dari nilai-nilai agama. Melalui sains manusia tidak akan mendapatkan kebenaran mutlak. Kebenaran --Hidayat menyebutnya dengan istilah kebetulan, hanya berupa kebenaran sesaat dan setempat-- dalam sains, sesungguhnya berada di luar sains!  



Komentar